Posted on

Timbul Tenggelam Kereta Api Cisadane (dan KRL Cisadane Ekspres)

Dulu pernah jadi KAJJ di era 1990-an. Gara-gara okupasinya minim dan kurang efisien, Kereta Api Cisadane Ekspres bersama 6 rangkaian kereta api ekonomi lainnya ditutup tahun 2003. Namanya kembali muncul sebagai KRL Manggarai-Tangerang. Hingga akhirnya hilang lagi di 2011 setelah dimulainya era KRL Commuter Line. 

Sebenarnya ogah ngebahas tentang kereta api yang satu ini, tapi karena ada seorang Railfans yang setiap kali hunting selalu “ngasih nama” Cisadane Ekspres ke Kereta Api Lokal Bandung Raya dan Kereta Api Patas Bandung Raya, rasanya perlu mengangkat tema tentang Kereta Api Cisadane Ekspres untuk meluruskan persoalan. Supaya yang bersangkutan nggak lagi keukeuh ngasih nama itu ke dua lokal andalan Bandung.

stasiun tanah abang Gambar 1.
Dipo Induk Tanah Abang, bagian dari Stasiun Tanah Abang (THB) yang dulu jadi stasiun pemberangkatan KRL Cisadane Ekspres.

Kereta Api Ekonomi di era Perumka dan PT KA.

Harus kita akui, Kereta Api Cisadane memang pernah mewarnai dan jadi bagian dari perkeretaapian Indonesia, khususnya di Daop 2 Bandung. Khususnya pada zamannya Perumka tahun 1990-an hingga awal millenium (PT KA). Kereta Api Cisadane adalah rangkaian kereta api ekonomi reguler yang melayani rute Bandung-Jogjakarta.

Tapi karena ada perubahan stasiun keberangkatan dimana semua kereta ekonomi dipindah ke Stasiun Kiaracondong, Kereta Api Cisadane pun ikut diberangkatin dari sana. Waktu pindah ke Kiaracondong, rute kereta api Cisadane diperpanjang sampe ke Madiun (MN), sehingga rutenya jadi Kiaracondong (KAC)-Madiun (MN).

Tahun 2003, PT KAI menutup sejumlah rute perjalanan kereta api ekonomi karena dinilai bikin rugi perusahaan. Ya, karena operator kereta api udah berubah jadi “Perseroan Terbatas” yang mengharuskan ada proses bisnis di dalamnya. Proses bisnis pastinya bermuara pada laba usaha. Jadi bukan semata-mata aspek sosial.

Kereta Api Cisadane jadi satu diantara 6 rangkaian kereta api yang ditutup tahun 2003. 6 rangkaian itu antaralain:

  1. Kereta Api Purbaya (Purwokerto-Surabaya Gubeng),
  2. Kereta Api Tawang Mas (Semarang Poncol-Jakarta Pasar Senen),
  3. Kereta Api Tirtonadi (Solo Jebres-Jakarta Pasar Senen),
  4. Kereta Api Gaya Baru Malam Utara (Surabaya Pasar Turi-Jakarta Pasar Senen),
  5. Kereta Api Galuh (Banjar-Jakarta Pasar Senen), dan
  6. Kereta Api Rengganis (Banyuwangi-Bangil).

Selain gara-gara okupasi minim, ditutupnya Kereta Api Cisadane bersama 6 kereta tersebut karena lintasan di Pulau Jawa padat, delay tinggi karena (waktu itu) sebagian besar masih single track, faktor keamanan dan keselamatan.

Terlahir Kembali sebagai KRL Cisadane Ekspres

Tahun 2004 PT. KAI Divisi Jabotabek datengin 16 unit (4 rangkaian) KRL JR 103 dari operator JR East untuk memperkuat armada KRL Jabodetabek yang dulu masih kebagi jadi 2 jenis: AC dan Non-AC. KRL JR 103 ex-Musashino Line dan Keiyo Line ini semula dinas sebagai KRL Semi Ekspres. Hingga pada akhirnya semua didinasin di jalur Tangerang yang nggak terlalu padat.

Nah disinilah Kereta Api Cisadane terlahir kembali, cuma bedanya dalam bentuk KRL Cisadane Ekspres di rute Manggarai-Tanah Abang-Tangerang. Nggak hanya itu, KRL Cisadane Ekspres kadang juga didinasin sampe ke Stasiun Depok (DP). Okupasinya sendiri udah pasti bagus banget karena kebutuhan transportasi berbasis rel di Jabodetabek sangat tinggi. Inilah yang bedain sama Kereta Api Cisadane waktu masih dinas Kiaracondong-Madiun.

Kereta Api Cisadane selain hidup lagi juga “pulang kandang”. Ya karena nama Cisadane sendiri diambil dari nama sungai yang membelah Kota Tangerang dan sekitarnya. Sungai ini bermula dari kawasan Bogor karena hulunya di Gunung Gede-Pangrango. Dari Bogor mengalir membelah Kota Tangerang dan Sekitarnya sampe bermuara di Laut Jawa. Masa dinas KRL Cisadane Ekspres cukup lama. Mulai tahun 2005 sampe 2011 atau sekitar 6 tahun.

Era KRL Commuter Line dan Penyederhanaan Rute

Tahun 2009, PT.KAI merubah Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek yang selama ini mengelola angkutan KRL jadi Perseroan Terbatas (PT), bernama PT KRL Commuter Jabodetabek (PT. KCJ) yang jadi anak usaha PT.KAI khusus ngelola angkutan KRL, lanjutin Divisi Jabotabek. Pertama kali dikelola PT. KCJ, pola perjalanan KRL masih sama kaya sebelumnya.

KRL Toyu Rapid 1000 Gambar 2.
Salah satu armada KRL Commuter Line jenis Toyu Rapid 1000

Waktu itu layanan KRL terbagi jadi 3 kelas: Ekspres AC, Ekonomi AC dan Ekonomi Non-AC. KRL Cisadane Ekspres sendiri masih masuk katagori KRL Ekspres dan tetap melayani penumpang di rute Manggarai-Tanah Abang meski nggak selalu pake armada KRL JR 103. Tahun 2009 sejumlah armada KRL AC terus berdatangan mulai dari Tokyo Metro 5000 series, Toyu Rapid 1000, Tokyu 8000-8500 series sampe Tokyo Metro 7000.

Masuk tahun 2011, PT. KCJ melakukan penyederhanaan rute KRL jadi 6 rute: Bekasi-Jakarta Kota, Bogor-Jakarta Kota, Bogor-Kampung Bandan-Jatinegara, Tanah Abang-Serpong, Duri-Tangerang, dan Tanjung Priok-Jakarta Kota. Penyederhanaan ini dibarengin sama penghapusan KRL Ekspres. Jadi waktu itu cuma ada 2 jenis KRL yakni KRL Commuter Line dan KRL Ekonomi Non-AC.

Pola perjalanan KRL Commuter Line ngikutin KRL Ekonomi AC yang berhenti di setiap stasiun dengan tarif komersial. Nah disinilah KRL Cisadane Ekspres harus rela turun kasta jadi “KRL Ekonomi AC” dan rutenya diperpendek cuma Duri-Tangerang, nggak lagi nyampe Manggarai.

Bahkan nama-nama yang dulu melekat di KRL Ekspres kaya Bekas Ekspres, Benteng (Tangerang) Ekspres, Cisadane Ekspres, Bojonggede Ekspres, Depok Ekspres sampe Serpong Ekspres harus menghilang dan semuanya diseragamin jadi KRL Commuter Line. 2 KRL Ekonomi AC yang udah punya nama, KRL Ciujung dan KRL Ciliwung Blue Line, ikut dihilangkan dan diintegrasikan ke dalam KRL Commuter Line.

Lagi-lagi Kereta Api Cisadane harus hilang dari peredaran. Jadi kaya timbul tenggelam gitu. Di tahun 1990-an sampe 2003 pernah dinas kereta api ekonomi reguler di rute Kiaracondong-Madiun. Udah itu ditutup gara-gara okupasinya minim. 2005 muncul lagi sebagai KRL Cisadane Ekspres dan di 2011 lagi-lagi harus menghilang dari peredaran karena diintegrasikan ke dalam layanan KRL Commuter Line.

Awal dinas dibawah Daop 2 Bandung meski agak sedikit aneh, terus ditutup tahun 2003, mudik ke Daop 1 Jakarta dinas sebagai KRL Cisadane Ekspres dibawah PT. KAI Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek, dan akhirnya benar-benar “tenggelam” setelah diintegrasikan ke KRL Commuter Line sekaligus rutenya disunat jadi cuma Duri-Tangerang.

 

REFERENSI

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.