Posted on

Stasiun Lempuyangan dan Daurah Nasional Asy Syariah

Nyaris tiap tahun Stasiun Lempuyangan banyak disinggahi Thullabul Ilmi peserta Daurah Nasional Asy Syariah di Masjid Agung Manunggal Bantul. Kereta Api ekonomi jadi favorite mereka buat belajar sama ulama dari Timur Tengah di acara tersebut.

Khusus buat thullabul ilmi yang pilih naik kereta api buat hadir di Daurah Nasional Asy Syariah tiap tahunnya, hampir kebanyakan naik kereta api ekonomi yang berhenti di Stasiun Lempuyangan. Tarif murah jadi pertimbangan tersendiri, meski nggak sedikit juga yang pilih kereta api komersial non-subsidi.

Biasanya thullabul ilmi stay di Jogja selama acara Daurah Nasional Asy Syariah Bantul aja, yakni 2-3 malam. Berangkat dari kota asalnya Jum’at malam terus pulang Minggu malam. Ada juga sih yang baru pulang Senin pagi/siang-nya, yang jelas banyak dari mereka bukan tipikal mau berlama-lama di satu daerah. Ya, mungkin karena satu dan lain hal juga ya.

Mimin sendiri udah ngikutin kegiatan itu di 2015 sama kemarin 2016, 2017 ada tapi di Jakarta. Rata-rata emang gitu, pengen segera pulang ke daerah asalnya. Kalopun ada yang masih stay beberapa hari jumlahnya nggak banyak.

Kereta Api Pasundan dan Kahuripan.

Dari Bandung sendiri, pastinya 2 rangkaian kereta api ekonomi, yakni Kereta Api Pasundan dan Kereta Api Kahuripan jadi tumpuan thullabul ilmi Bandung dan sekitarnya menuju Jogja. Dua kereta ini berangkat dari Stasiun Kiaracondong dan singgah di Stasiun Lempuyangan.

Khusus di 2016 ada 3 kereta api ekonomi yang dimanfaatin sama thullabul ilmi, 2 kereta di atas ditambah Kereta Api Kutojaya Selatan. Thullabul Ilmi yang berangkat Jum’at malam kebetulan nggak kebagian tiket Kereta Api Kahuripan yang langsung, sehingga mau nggak mau mesti cari alternatif lain. Dipilihlah Kereta Api Kutoaya Selatan, Kiaracondong-Kutoarjo.

Begitu kereta api Kutojaya Selatan nyampe di Stasiun Kutoarjo jam 04.30 WIB, kita semua sholat shubuh lebih dulu sambil nunggu KRD Prameks keberangkatan pertama ke Jogja. Itu juga gantian, jadi ada yang sholat dulu sementara lainnya ngantri di loket KRD Prameks.

Karena KRD Prameks juga berhenti di Stasiun Tugu Jogjakarta, kita semua sepakat turun disitu, mengingat jarak ke Masjid Agung Manunggal Bantul ternyata lebih gampang dari Stasiun Tugu daripada Lempuyangan. Iya, tinggal lempeng aja lewat jalan Letjen Suprapto lanjut Jalan Raya Bantul. Nggak ada belok-belok lagi.

Pas di hari Minggu-nya, kebetulan ada peserta yang mau pulang ke Bandung juga nggak kebagian Kereta Api Kahuripan, sehingga harus berangkat lebih awal naik Kereta Api Pasundan yang berangkat jam 2 siang dari Stasiun Lempuyangan. Hasilnya mereka udah pasti nggak bisa ikutan seluruh acara, cuma bisa ikut yang sesi pagi aja, udah itu langsung cabut.

Sementara itu mereka yang naik Kereta Api Kahuripan justru malah yang milih pulang setelah hari Senin, yakni Selasa dan Rabu. Kebetulan acara Daurah Nasional Asy Syariah nggak cuma diadain di Bantul, tapi ada sesi khusus di Ma’had Al Anshar Komplek LVRI Wonosalam-Sleman.

Nah, yang ikut sesi di Sleman pulangnya hari Selasa dan Rabu, alhamdulillah dapat Kereta Api Kahuripan yang waktu itu berangkat jam setengah delapan lewat. Jadwal kereta api Kahuripan memang lebih bersahabat. Begitu beres semua sesi di Sleman, mereka langsung ke Stasiun Lempuyangan.

Nyampe di Stasiun Kiaracondong-nya juga udah mau masuk waktu Shubuh, jadi bisa sholat shubuh dulu. Selain itu 2 peserta yang mau ke Cicalengka bisa naik Kereta Api Lokal Bandung Raya keberangkatan paling pertama.

Stasiun Lempuyangan Lebih Dekat ke Pemukiman

Sedikit info, Stasiun Lempuyangan masih terletak di Kota Jogjakarta, cuma agak jauh sekitar 7 km dari Stasiun Tugu Jogjakarta yang posisinya memang di jantung kota dan sangat strategis. Dari Stasiun Tugu sendiri bisa langsung ke Malioboro. Sedangkan Stasiun Lempuyangan malah lebih dekat ke pemukiman.

Jadi jangan heran kalo nggak serame Stasiun Tugu dan agak sulit cari tempat makan, terutama buat kamu yang butuh makan. Beda sama Malioboro yang segala macam ada. Tapi biarpun begitu, Stasiun Lempuyangan tetap rame sama backpacker dan budget traveler. Termasuk di antara mereka ya Thullabul Ilmi yang hampir tiap tahunnya nyerbu Jogja buat belajar agama.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.