Posted on

Stasiun Cepu (CU) dan Kereta Api Cepu dalam Sejarah

Stasiun Cepu (CU) sekarang jadi satu-satunya stasiun terbesar sekaligus pintu masuk ke Kota Cepu dan Kabupaten Blora. Taukah kamu sebenarnya pernah ada jaringan kereta api terintegrasi di wilayah Kabupaten Blora, bahkan Cepu sendiri pernah punya dua stasiun. 

Meski punya cadangan minyak lumayan melimpah, kota di ujung timur Jawa Tengah ini sebenarnya bukan kota besar. Kalo ditelusuri seksama, nggak ada sesuatu yang istimewa di sini. Jangan dikira banyak mall atau bioskop XXI di sana sini, nggak bisa dibandingin sama Bandung, Surabaya, apalagi Jakarta. Malah ada satu tempat yang disebut “mall” justru lebih mirip sama Pasar Antri Baru di Kota Cimahi.

Diliat dari sejarahnya sendiri, keberadaan rel kereta api di sini nggak bisa lepas dari sejarah pembangunan jalur kereta api Semarang-Surabaya. Sukses bikin jaringan kereta api dari Semarang ke Solo dan Jogja via Kedungjati dan Ambarawa, ditambah lagi jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (jalur Jakarta-Bogor yang sekarang dilewatin KRL Commuter Line), pemerintah Kolonial Belanda pengens supaya jaringan yang ada bisa tembus Surabaya.

Di Surabaya sendiri ada jalur kereta api yakni Surabaya-Malang yang dibangun perusahaan nasional Hindia Belanda, Staatspoorwagen (SS). Karena itu pemerintah kolonial minta sama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappijj (NIS/NISM) untuk nyambungin jaringan rel yang ada di Semarang ke Surabaya. Jalur ini direncanain lewat wilayah Kabupaten Blora saat ini, termasuk Kota Cepu.

Cuma awalnya permintaan itu seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Menurut hitung-hitungan NIS, Kota Cepu masih berupa hutan dan rawa yang jarang penduduknya, jadi trase Semarang-Surabaya dianggap nggak begitu menguntungkan. Apalagi posisi NIS sebagai perusahaan swasta pastinya berorientasi mencari laba dari setiap usaha yang dijalaninnya.

Sampe akhirnya ditemuin cadangan minyak di Cepu di tahun 1893, NIS bisa memenuhi permintaan pemerintah kolonial. Cuma rel yang dipake beda sama yang ada di jalur kereta api Semarang-Jogja. Untuk Semarang-Surabaya, NIS pake lebar spoor 1.067 mm supaya sama kaya jalur Surabaya-Malang punya SS.

Stasiun Cepu (CU) dan Stasiun Cepu Kota (CEK).

Bersamaan pembangunan jalur kereta api Semarang-Surabaya, Stasiun Cepu (CU) dibangun tahun 1902 untuk mendukung jalur tersebut. Apalagi ada potensi angkutan minyak bumi dari sini. Setahun berselang, 1903, giliran Stasiun Cepu Kota (CEK) dibangun perusahaan kereta api swasta lainnya, Samarang Joana Stroomtram Maatschappij (SJS/SJSM).

Beda sama jalur kereta api yang dibangun sama NIS, jalur punya SJS ini dari Stasiun Cepu Kota membentang sampe ke Blora dan Rembang. Melengkapi jaringan kereta api Cepu, tahun 1915 dibangun jalur kereta api di kawasan hutan jati sepanjang 300 km (sekarang Perhutani KPH Cepu). Semua jalur kereta api saling tersambung.

Stasiun Cepu (CU) dan Kereta Api Cepu dalam Sejarah 1/2

Stasiun Cepu (CU) dan Kereta Api Cepu dalam Sejarah 2/2

Akhir Kejayaan Kereta Api Cepu.

Sayang seiring berjalan waktu, berakhir pula kejayaan kereta api Cepu. Perubahan pola angkutan barang dan penumpang dari kereta api ke angkutan jalan raya akhirnya memukul perkeretaapian di kota Cepu dan Kabupaten Blora. Dinilai nggak lagi menguntungkan, tahun 1974 Stasiun Cepu Kota (CEK) dan semua jaringan kereta api dari Cepu ke Blora dan Rembang peninggalan SJS ditutup. Termasuk percabangan ke Perhutani KPH Cepu.

Percabangan dari Stasiun Cepu (CU) —sebelumnya Stasiun Cepu NIS karena dibangun sama NIS— tinggal nyisain satu jalur ke Dipo Pertamina buat angkutan kereta ketel Pertamina. Itu juga cuma bertahan sampe tahun 2008 hingga akhirnya lintas cabang ini pun harus non-aktif. Kini Kereta Api Cepu tinggal nyisain Stasiun Cepu (CU) sebagai stasiun utama dan jalur kereta api Perhutani KPH Cepu untuk kepentingan Perhutani sekaligus wisata.

Walaupun masih ada Stasiun Randublatung (RBG) yang juga di wilayah Kabupaten Blora, posisi stasiun utama di sini tetap dipegang Stasiun Cepu (CU). Semua kereta api dari Bandung, Jakarta, Surabaya dan Malang berhenti di Stasiun Cepu (CU). Cuma Kereta Api Argo Bromo Anggrek aja yang nggak berhenti.

Satu keistimewaan di Stasiun Cepu (CU) ialah diputarnya instrumen lagu daerah “Suwe Ora Jamu” setiap ada kereta penumpang yang berhenti di sini. Lagu tersebut seolah menyambut penumpang yang datang ke kota Cepu maupun yang mau pergi dari Cepu.

Advertisements

One thought on “Stasiun Cepu (CU) dan Kereta Api Cepu dalam Sejarah

  1. […] Jawa. Konstruksi jembatan awalnya cuma mendukung rel tunggal atau single track. Jadi dari arah Stasiun Cepu (CU) kereta akan belok dulu sebelum lewatin […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.