Posted on

Sejarah Jalur Kereta Api Jakarta Bandung 1 (9 Jam via Sukabumi)

Sebelum heboh rencana bangun kereta cepat Jakarta Bandung, sebenarnya dua kota bertetangga itu udah punya sejarah panjang dalam dunia perkeretaapian di Indonesia. Kalo sekarang paling sekitar 3 1/2 jam udah nyampe, zaman dulu malah bisa 9 jam!

Sejarah Jalur Kereta Api Jakarta Bandung dimulai tahun 1881 dengan memperpanjang jaringan rel yang sebelumnya udah terhubung dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor). Sebelum memperpanjang jalur kereta api, lebih dulu Stasiun Bogor yang sebelumnya jadi terminus diperluas supaya bisa nampung penumpang dari arah Sukabumi.

Jalur kereta api Jakarta Bandung yang pertama dibangun dan diresmikan dalam 5 tahap, yakni:

  1. Bogor – Cicurug. 5 Oktober 1881
  2. Cicurug – Sukabumi, 21 Maret 1882
  3. Sukabumi – Cianjur, 10 Mei 1883
  4. Cianjur – Bandung, 17 Mei 1884
  5. Bandung – Cicalengka, 10 September 1884

Tanggal 17 Mei 1884 untuk pertama kalinya Jakarta dan Bandung terhubung rel kereta api. Waktu itu jalurnya masih lewat Bogor-Sukabumi-Cianjur.

Lebih Dulu Dibeli SS

Pembangunan jalur kereta api Jakarta Bandung yang pertama memang baru dimulai tahun 1881. Namun sebenarnya udah ada langkah awal sebelum mewujudkannya. Sedikit info, jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) itu punya swasta, NIS (Nederlansch Indische Spoorweg Maatschapij), yang juga ngelola jalur Semarang-Solo.

Dalam perjalaannya jalur Batavia-Buitenzorg dibeli oleh perusahaan negara, SS (Staadspoorwagen). Di sisi lain SS kepengen membangun jalur kereta api di karesidenan Priangan dan membuka Bandung yang waktu itu masih desa terpencil di Karesidenan Priangan. tapi punya potensi hasil bumi teh dan kina.

Begitu proses akuisisi dari NIS ke SS kelar, barulah pembangunan jalur kereta api Jakarta Bandung dimulai. Itu juga nggak sekaligus dan dibagi 5 tahap dimulai dari Bogor-Cicurug dan ujungnya di Cicalengka.

Gambar-1. Jadwal Kereta Api Bumel Batavia-Bandung-Cicalengka tahun 1884

Jakarta Bandung 9 Jam via Sukabumi

Begitu Kota Bandung udah terhubung jalur kereta api dari Jakarta (17 Mei 1884), pembangunan dilanjut sampai ke Cicalengka di wilayah Bandung Timur (10 September 1884). Ini merupakan tahap akhir dari keseluruhan proses pembangunan jaringan kereta api Karesidenan Priangan.

Setelah semuanya jadi, barulah rangkaian kereta api mulai dijalanin. Kereta Api pertama jurusan Jakarta Bandung mulai beroperasi tahun 1884 seiring mulai nyambungnya rel yang menghubungkan 2 kota bertetangga itu.

Tapi jangan dibayangin ya keretanya elite, atau sekelas Argo Parahyangan sekarang. Dibandingin sama Kereta Api Serayu aja nggak ketemu. Kereta api pertama dari Jakarta ke Bandung justru termasuk jenis kereta api Bumel. Namanya bumel udah jelas identik sama waktu tempuh yang lama karena nyaris berhenti di setiap stasiun.

Kereta Api Jakarta Bandung yang Bumel itu dikasih nama “Westerlijnen“. Entah emang ini benar namanya atau bukan, atau bisa jadi operatornya waktu itu kepengen ngebedain mana kereta yang beroperasi di jalur barat (Karesidenan Priangan) dam mana yang di timur (jalur pertama Semarang Solo).

Kalo pengen aman sih bilang aja Kereta Api Bumel, karena Westerlijnen bisa jadi punya makna lain. Maklum admin sendiri belajar bahasa Belanda di Google University. Penasaran pengen ngecek di Google, silakan aja, berdasarkan translate di situ arti Westerlijnen itu West Line (Bahasa Inggris) atau kalo di Indonesiain jadi Lintas Barat.

Nah kalo gitu kurang pas dong? Iyalah, kereta api dari Jakarta ke Banten juga sebenarnya bisa disebut Westerlijnen, tapi tahun 1881 jalur ke Banten kan belum dibangun.

Waktu tempuh perjalanan dari Jakarta (Batavia) ke Bandung naik Kereta Api Bumel di tahun 1884 kurang lebih 8-9 jam! Ada 3 rangkaian kereta api Bumel di jalur itu tapi cuma ada 1 perjalanan yang benar-benar Jakarta-Bandung PP.

Perjalanan menuju Bandung dimulai dari Stasiun Batavia Noord jam 06.44 nyampe di Stasiun Bandung jam 15.04. Itu artinya Jakarta Bandung waktu itu ditempuh 8 jam 24 menit. Di zaman sekarang itu sama kaya dari Bandung ke Jogja. Sementara kalo dibablasin sampe ke terminus di Cicalengka jadi 9 jam 11 menit. Kereta Api Bumel itu baru masuk Stasiun Cicalengka jam 15.55.

Kebayang kan lamanya perjalanan Jakarta Bandung waktu itu? Untuk rute sebaliknya pun nyaris sama. Berangkat dari Stasiun Cicalengka jam 08.38 nyampe Stasiun Batavia Noord jam 17.38. Waktu tempuhnya jadi 9 jam. Sementara kalo berangkat dari Stasiun Bandung jam 09.44, dan perjalanan dari Stasiun Bandung makan waktu 7 jam 52 menit artinya 8 jam juga.

Detil jadwal perjalanan kereta api bumel “Westerlijnen” Batavia Bandung bisa kamu lihat di gambar 1

Terowongan Lampegan

Eh, ngomong-ngomong soal sejarah jalur kereta api Jakarta Bandung yang lewat Sukabumi, rasanya kurang afdhol kalo nggak sekalian dibahas tentang Terowongan Lampegan. Paling nggak ringkas aja.

Jalur Kereta Api Jakarta Bandung pertama yang lewat Bogor-Sukabumi-Cianjur juga bakal ngelewatin terowongan, sama kaya jalur yang sekarang. Bedanya terowongan di jalur itu ada di Desa Cibokor Kabupaten Cianjur, menembus bukit yang di atasnya perkebunan teh.

Kenapa dinamain Lampegan? Menurut sejarah nama Lampegan asalnya dari kalimat yang sering disebut oleh mandor kereta api di zaman Hindia Belanda waktu inspeksi di dalam terowongan, yakni “Lamp Pegang, Lamp Pegang”. Perintah sang mandor kepada bawahannya supaya tetap hidupkan lampu.

Terowongan Lampegan merupakan terowongan kereta api tertua di Indonesia. Dibangun pada tahun 1879-1883. Terowongan ini selesai setahun sebelum jalur kereta api nyambung sampai ke Bandung dan Cicalengka.

Saat ini terowongan masih aktif dan Kereta Api Siliwangi rute Cianjur-Sukabumi melintas secara reguler di sini. Walaupun sempat ambruk tahun 2000-2001 tapi sekarang udah aman dilewati setelah restorasi dan renovasi di 2010.

Nggak jauh dari terowongan ini ada Stasiun Lampegan. Inilah stasiun paling dekat ke situs prasejarah Gunung Padang.

 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *