Posted on

PLH Trowek yang (Nyaris) Terlupakan

25 Oktober 1995 terjadi PLH Trowek, insiden gabungan 2 rangkaian kereta api Galuh dan Kereta Api Kahuripan di Jembatan Trowek, Cirahayu, Kabupaten Tasikmalaya. Tragedi ini makan korban 15 orang meninggal dunia dan 90 lainnya luka berat. Sayangnya musibah tragis ini kaya nyaris terlupakan.

PLH Trowek yang Nyaris Terlupakan

Hari ini tepat 22 tahun yang lalu terjadi kecelakaan kereta api yang lumayan tragis di Daop 2 Bandung, tepatnya di petak antara Stasiun Cipeundeuy dan Stasiun Cirahayu. Kecelakaan kereta api tunggal melibatkan gabungan 2 rangkaian kereta api Galuh (Jakarta-Banjar) dan kereta api Kahuripan (Bandung-Kediri).

Rangkaian panjang itu mengalami anjlok begitu masuk jembatan Trowek, penyebabnya karena rem lokomotif CC 201 05 nggak berfungsi alias blong, ditambah lagi jalur turunan ekstrem antara Cipeundeuy-Cirahayu (Trowek), jadi aja begitu masuk jembatan kereta mengalami anjlok.

Tercatat 4 gerbong terguling ke kiri, 1 gerbong masuk jurang sedalam 10 meter dan 1 gerbong lainnya terlempar sejauh 10 meter. Kecelakaan kereta api yang dikenal PLH Trowek ini makan korban jiwa 15 orang meninggal dunia dan 90 orang lainnya luka berat.

Second From Disaster PLH Trowek

Gimana kronologis atau Second From Disaster PLH Trowek? Dirangkum dari berbagai sumber, PLH Trowek bermula saat Kereta Api Galuh rute Jakarta Pasar Senen – Banjar mengalami trouble di Stasiun Cibatu. Di belakangnya ada Kereta Api Kahuripan, berangkat jam 21.30 WIB dari Stasiun Bandung ke Stasiun Kediri, 30 menit dibelakang Kereta Api Galuh.

Kedua kereta bertemu di Stasiun Cibatu, karena Kereta Api Galuh udah telat banget dan trouble, biar nggak semakin terlambat akhirnya Perumka waktu itu ngambil opsi menggabungkan 2 rangkaian kereta api: Kereta Api Galuh dan Kereta Api Kahuripan jadi satu rangkaian.

Rangkaian gabungan panjang ini dijalanin sampe Stasiun Kroya, nanti dari situ Kereta Api Kahuripan lanjut ke tujuan akhirnya, Stasiun Kediri, sementara Kereta Api Galuh balik lagi ke Stasiun Banjar.

Kereta Api Galuh terdiri dari 6 gerbong (5 gerbong K3 + 1 gerbong KMP3) ditarik lokomotif CC 201-05. Kereta Api Kahuripan yang berangkat dari Stasiun Bandung bawa 7 gerbong (6 gerbong K3 + 1 gerbong KMP3) ditarik lokomotif CC 201 75.

Setelah keduanya digabung rangkaiannya jadi 11 gerbong K3 + 2 gerbong KMP3 ditarik dua lokomotif (Double Traksi/DT) CC 201 05 + CC 201. Jadi total semuanya ada 13 gerbong, memang sih masih belum nyamain Kereta Api Kertajaya atau Kereta Api Parahyangan di tahun 1980-an yang punya (atau pernah bawa) 14 gerbong.

Berangkat dari Stasiun Cibatu, dua rangkaian gabungan ini harus ngelewatin turunan sampe Stasiun Bumiwaluya (BMW) atau Stasiun Malangbong. Beda ketinggian Stasiun Cibatu (612 mdpl) dan Stasiun Bumiwaluya (541 mdpl) itu 71 meter.

Dari Bumiwaluya ke Cipeundeuy naik lagi karena beda ketinggian 231 meter sama Stasiun Cipeundeuy yang ada di ketinggian 772 mdpl. Lanjut ke arah Tasikmalaya, jalurnya menurun tajam sekitar 247 meter, lagi-lagi beda ketinggian sama stasiun terdekat, yakni Stasiun Cirahayu (CAA) di Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya (525 mdpl).

Jalur selatan Jawa Barat atau Priangan Timur ini memang punya pemandangan eksotis, tapi dibalik keindahan alamnya ada lintasan ekstrem antara Bumiwaluya-Cipeundeuy dan Cipeundeuy-Cirahayu dengan kemiringan 25 per mil. Cukup ekstrem buat ukuran jalur utama.

Sebelum keduanya digabung aja jalur ekstrem udah dilewatin antara Stasiun Cicalengka (CCL) sampe Stasiun Nagreg (NG) dan dari Stasiun Nagreg ke Stasiun Cibatu (CB) dimana Stasiun Nagreg sendiri merupakan stasiun aktif tertinggi di Indonesia saat ini, di 848 mdpl.

Sekitar jam 00.03 WIB dinihari saat mau masuk Stasiun Cirahayu (waktu itu namanya masih Staisun Trowek), Lokomotif CC 201 75 punya Kereta Api Kahuripan mengalami kegagalan fungsi rem, jadi nggak berfungsi sebagaimana mestinya, atau remnya blong. Jalur menurun bikin kereta api terus melaju kencang tanpa terkendali (out of control).

Di KM 241 tepat di Jembatan Cirahayu atau Jembatan Trowek sepanjang 100 meter dengan kondisi rel menikung dan menurun, ditambah nggak ada remnya alias rem blong, rangkaian kereta api gabungan ini anjlok, terguling ke kanan dan kiri, malah ada yang masuk ke jurang.

3 rangkaian gerbong K3-66545R, K3-81761, K3-64551 terguling ke kanan. 1 gerbong K3 93505 terlempar ke kiri sejauh 10 meter. Paling tragis gerbong restorasi KMP3-80501 jatuh ke jurang sedalam 10 meter. 3 gerbong K3-93559, K3-61502 dan K3-66715 masih ada di rel dalam keadaan anjlok, sementara 5 rangkaian gerbong lainnya selamat dan ditarik ke Stasiun Cibatu.

Kerusakan parah juga dialami lokomotif kedua kereta yang digabungin itu. Lokomotif CC 201-05 punya Kereta Api Galuh berantakan, bagian depan hancur akibat menabrak tebing dan body belakangnya rusak parah. Lokomotif CC 201-75 punya Kereta Api Kahuripan terbalik posisi roda di atas, dindingnya terkelupas dan rusak parah.

PLH Trowek, 25 Oktober 1995 dini hari, makan korban 15 orang meninggal dunia (termasuk masinis Kereta Api Galuh dan Kereta Api Kahuripan), 90 orang lainnya luka berat. Sebagian korban tewas kondisinya mengenaskan kaya tubuh terpisah hampir mirip sama korban Tragedi Bintaro 1.

Selain kondisi mengenaskan, ada lagi yang jatuh ke jurang gara-gara panik pas lagi menyelamatkan diri dari gerbong kereta api yang mengalami kecelakaan. Saking paniknya sampe nggak nyadar dia ada di atas jembatan dan didalamnya jurang sedalam 10 meter.

Trouble Genset, benar nggak ya?

Salah satu sumber dari komentar di forum Facebook “Komunitas Penggemar Kereta Api Indonesia – PT.KAI” menyebut gabungan 2 kereta api mengalami trouble genset di Stasiun Cipeundeuy. Semua lampu mati, gerbong jadi gelap gulita, lokomotif ngeluarin api terus-terusan, dan melaju dengan taspat (batas kecepatan) di luar kewajaran.

Taspat di luar kewajaran itu alamat rem kereta api udah mulai blong, secara sebelum masuk Stasiun Cipeundeuy (CPD) aja udah ngelewatin jalur kereta api yang lumayan ekstrem, malah harus nanjak 25 per mil dari Stasiun Bumiwaluya sampe ke Cipeundeuy. Abis itu jalurnya turun 25 per mil dan kereta api yang lewat jadi kaya “main perosotan”.

Lampu kereta api mati dan gerbong gelap gulita itu tandanya memang ada trouble genset. Di zaman Perumka dulu, rangkaian gerbong kereta api ekonomi jalan dalam keadaan gelap gulita itu kaya udah biasa banget, dan tentu nggak bisa ditolelir kalo sekarang. Malah dianggap serius.

Terlepas benar nggak-nya kabar itu, yang jelas PLH Trowek jadi catatan kelam Kereta Api Kahuripan yang sekarang jadi buruan budget traveler dari Bandung ke Jogja, Solo, Madiun sampe ke Blitar.

Kalopun benar memang terjadi trouble genset, itu nggak ngasih kontribusi besar ke PLH Trowek, karena  sebab utamanya kegagalan fungsi rem atau rem blong. Kerusakannya bersifat teknis (technical problem). Beda sama Tragedi Bintaro 1 yang murni human error.

Keputusan “mengawinkan” Kereta Api Galuh sama Kereta Api Kahuripan itu sendiri memang masih bisa dibilang wajar, karena toh tujuannya supaya Kereta Api Galuh yang trouble dan telat banget nggak semakin telat.

PLH Trowek Nyaris Terlupakan

Sayangnya kecelakaan tragis di jalur Priangan Timur nan eksotis ini seperti nyaris terlupakan. Boleh jadi mungkin karena korban meninggal dunia masih sepersepuluh Tragedi Bintaro 1 dan TKP-nya ada di desa terpencil Priangan Timur, bukan di ibukota.

Udah itu kejadiannya juga di malam hari, tengah malam malah, bukan di jam berangkat kerja. Meski gabungan kereta api Galuh dan kereta api Kahuripan nggak bisa dibilang sepi penumpang, karena ada sekitar 300-an penumpang di dalamnya.

Sementara Tragedi Bintaro 1 selain TKP-nya masih masuk wilayah ibukota Jakarta yang notabene pusat ngumpulnya media massa ditambah kejadian di rush hour dan korban tewas sampe 156 orang jelas jadi lebih disorot daripada PLH Trowek. Dibikin film juga berjudul “Tragedi Bintaro”.

Makanya Tragedi Bintaro 1 tanggal 19 Oktober 1987 lebih gampang diingat, termasuk sama generasi milenial. Sementara PLH Trowek paling cuma kita-kita yang dibesarkan dan ngalami masa kecil di era-1990an. Waktu kejadian mimin sendiri masih kelas 6 SD lho.


DAFTAR PUSTAKA

Abu Fauzan, Hevi. 2012. Nemu berita kecelakaan KA di Trowek, Cirahayu, 24 Okt 1995. (http://twitpic.com/dbon9c)

AM, H. Harisoedin dalam Family Weblog. 2006. Trowek
(http://i-familyresources.blogspot.co.id/2009/06/trowek.html)

Catatan Seorang Railfan. 2012. Stasiun Sakti Daop 2 Bandung.
(http://railfanscalutak.blogspot.co.id/2012_09_01_archive.html)

Garut Express Online. 2015. Haji Kewoh, Adalah Jin “Penguasa” Stasiun Cipeundeuy 
(http://garut-express.com/haji-kewoh-adalah-jin-penguasa-stasiun-cipeundeuy/)

Jalur Kereta Api Padalarang – Kasugihan. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_Padalarang%E2%80%93Kasugihan

KRD Fans Club Bandung Raya. 2011. Tragedi KA Galuh dan KA Kahuripan
(https://id-id.facebook.com/krdbdgraya/posts/345671332113038)

Komunitas Penggemar Kereta Api Indonesia – PT.KAI. 2015.Today in Indonesian Railways History 25 Oktober 1995: Tragedi Trowek.
(https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=571566119657843&id=189602504520875&substory_index=0)

Prasetyo, Dimas. 2013. Silahturahmi Ke Stasiun Cipeundeuy (http://dimasprasetyo13.blogspot.co.id/2013/09/silahturahmi-ke-stasiun-cipeundeuy.html)

Suryaman, Dani. 1995. Kecelakaan KA tahun 1995, KA Kahuripan digandengkan dengan KA Galuh anjlok di jembatan trowek Cirahayu Tasikmalaya (https://twitter.com/dani_suryaman/status/644820598808416256)

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.