Posted on

My First Trip with Kereta Api Lodaya

Trip perdana saya bersama Kereta Api Lodaya di tahun 2015. Berangkat ke Jogja sebetulnya nggak ada yang istimewa karena perjalanan di malam hari dan pastinya nggak bisa lihat pemandangan. Cuma keramaian di Stasiun Cipeundeuy aja. 

Inilah pertama kalinya saya ngetrip jauh naik kereta api, karena biasanya cuma sebatas Bandung-Jakarta doang atau paling-paling nggak jauh dari lokalan, commuter line dan sejenisnya. Trip ini juga jadi satu yang istimewa buat saya pribadi, kenapa? Inilah pertama kalinya saya ngetrip jauh nggak sama keluarga, udah itu naik kereta api pula. Ajibnya lagi sekaligus jadi yang pertama sejak 1999 saya kembali menginjakan kaki di Jogja.

Sebenarnya sebelum ini saya udah beberapa kali jalan-jalan jauh. Mulai ke Bali, Bengkulu, Singapore hingga Hong Kong. Cuma semua trip tersebut sama keluarga, saya nggak jalan sama teman apalagi sendirian. Betul-betul zona nyaman bukan? Ke Jogja di tahun 1999 juga sama keluarga.

Dauroh Nasional Asy Syariah ke 11

Keberangkatan saya ke Jogja memang nggak lepas dari satu kegiatan di Masjid Agung Manunggal Bantul, yakni Dauroh Nasional Asy Syariah ke11 tahun 2015. Acara itu diadain bulan Juni 2015 atau Bulan Sya’ban, hanya 2 pekan sebelum masuk bulan suci Ramadhan.

Daurah Nasional Asy Syariah memang udah jadi semacam agenda tahunan yang nyaris selalu diadain di Masjid Agung Manunggal Bantul. Karena sifatnya nasional, maka nggak heran kalo pesertanya datang dari berbagai daerah hingga pelosok negeri. Bahkan dari luar negeri pun ada.

Apa yang bikin kegiatan ini begitu istimewa nggak lain karena narasumbernya langsung ulama dari Timur Tengah. Udah itu diadainnya 2 hari, makanya animo pesertanya juga begitu tinggi. Nah pada pelaksanaan ke 11 inilah saya berkesempatan untuk datang ke Masjid Agung Manunggal Bantul.

Awalnya saya berencana naik Kereta Api Kahuripan, kalo skenarionya sama rombongan besar. Ternyata rombongan besar lebih memilih naik bus, maka berubahlah rencana saya jadi naik Kereta Api Lodaya bersama seorang teman. Cuma berdua doang. Kereta Api Lodaya dipilih karena pertimbangan harga tiket dan jadwal yang cukup bersahabat.

Berangkat dari Stasiun Bandung jam 18.55 WIB nyampe di Stasiun Tugu Jogjakarta sekitar jam 3 kurang dini hari. Cukup waktu buat nguber sholat Shubuh di Masjid Agung Manunggal Bantul dan ikut sesi pembukaan setelahnya.

Perjalanan Malam dan Stasiun Cipeundeuy

Nggak ada yang istimewa sih dari trip naik Kereta Api Lodaya ini karena berangkat jam 18.55 WIB udah pasti sepanjang perjalanan hanya menikmati kegelapan malam berhias lampu-lampu rumah atau apa aja yang dilintasi sama kereta api Lodaya. Istimewanya buat saya pribadi karena untuk pertama kalinya berhasil keluar dari “zona nyaman”.

Nggak ada aktivitas berarti di perjalanan malam itu. Paling juga cuma ngobrol sama temen, itupun nggak sepanjang jalan, karena ada waktunya mata harus dipejamkan supaya besok bisa maksimal dalam mengikuti rangkaian kegiatan Dauroh Nasional AsySyariah. Tidur di atas kereta api memang bukan perkara gampang, lebih-lebih di kelas bisnis.

Sedikit info, Kereta Api Lodaya punya layanan kelas eksekutif dan bisnis, kebetulan di hari itu saya sama teman naik di kelas bisnis. Pilihan kelas bisnis lagi-lagi karena masih bersahabat di kantong meski tentu saja lebih mahal daripada kelas ekonomi reguler. Tak lupa malam itu saya pesan Nasi Goreng Parahyangan, yang cukup melegenda.

Ngomong-ngomong soal Nasi Goreng Parahyangan, kok dijual juga ya di Kereta Api Lodaya? Satu sisi menu legendaris ini memang cukup akrab sama sang legenda Kereta Api Parahyangan di rute Bandung-Jakarta. Soal cita rasa nggak usah ditanya lagi, mak nyuss. Setelah sang legenda pensiun dan dilanjutin Argo Parahyangan, rasa mak nyuss itu masih tetap bertahan.

Ternyata Nasi Goreng Parahyangan nggak cuma ada di Kereta Api Parahyangan dan Argo Parahyangan. Di Kereta Api Lodaya juga ada. Sayang di 2015 udah mulai disajikan ala Lawson Station, nggak lagi dimasak langsung di atas kereta. Jadi udah nggak senikmat dulu.

Kereta Api Lodaya terus melaju, meninggalkan wilayah Kota Bandung, masuk daerah pinggiran kaya Cicalengka dan Nagreg, hingga akhirnya masuk Kabupaten Garut. Sang macan akhirnya singgah di sebuah stasiun kecil bernama Cipeundeuy. Memang udah prosedur standard semua kereta api yang lewat jalur selatan harus berhenti di sini untuk pemeriksaan rem.

Itu semua karena jalur yang dilewatin sangat ekstrem. Mulai Stasiun Cicalengka, kereta api jalan menanjak hingga Stasiun Nagreg, abis itu ngelewatin turunan sampe ke Cibatu, dari Cibatu mendaki lagi hingga Cipeundeuy. Ditambah lagi pernah kejadian PLH Trowek di tahun 1995 gara-gara rem blong setelah melewati lintasan ektrem, tanpa berhenti di Stasiun Cipeundeuy.

Stasiun Cipeundeuy waktu itu belum melayani naik turun penumpang. Jadi aktivitasnya cuma sekedar pemeriksaan rem, apalagi selepas Cipeundeuy jalur yang dilewatin menurun sampe ke Tasikmalaya. Tapi selagi kereta berhenti dan pemeriksaan rem, aktivitas dibalik pagar stasiun ternyata begitu ramai. Banyak ibu-ibu menawarkan daganannya. Nggak jauh-jauh dari tahu Sumedang atau sekedar air mineral.

Penumpang kereta nggak sedikit yang beli di situ, karena harga yang lebih murah daripada di atas kereta api. Karena waktu itu udah malam dan perbekalan masih cukup, saya putusin nggak ikut belanja di ibu-ibu asongan itu. Cukup abadiin aja dalam sebuah video (ada di awal artikel).

Selepas Kereta Api Lodaya meninggalkan Stasiun Cipeundeuy, aktivitas saya dan teman saya selanjutnya tentu saja coba istirahat dan memejamkan mata, walaupun itu bukan perkara mudah. Alhamdulillah bisa meski sesekali kebangun, misalnya begitu kereta masuk Stasiun Maos, setelah itu tidur lagi sampe tanpa terasa berhenti di Stasiun Butuh buat silangan sama kereta api dari arah Jogja.

Karena udah nyampe Stasiun Butuh yang ada di Kabupaten Kebumen, sepertinya tinggal sedikit lagi kereta nyampe di Jogja, buat meremin mata tentu cukup berat. Meski tetap dicoba sesekali. Kereta Api Lodaya meninggalkan Stasiun Butuh terus berhenti di 3 stasiun: Stasiun Kebumen, Stasiun Kutarjo dan Stasiun Wates, sebelum akhirya nyampe di Stasiun Tugu Jogjakarta.

Stasiun Tugu Jogjakarta sebenarnya bukan tujuan akhir Kereta Api Lodaya, karena setelah ini sang macan kembali melaju hingga ke tujuan akhirnya Stasiun Solo Balapan, dan cuma berhenti di Stasiun Klaten. Tapi saya dan teman saya mengakhiri perjalanan di Stasiun Tugu Jogjakarta. Selanjutnya menuju lokasi kegiatan di Masjid Agung Manunggal Bantul.

Ya untuk sementara itu aja dulu, masih lanjut ke bagian 2 dan inilah trip yang sebenarnya karena perjalanannya di pagi dan siang hari. Tentu bisa nikmatin pemandangan sepanjang perjalanan.

 

Advertisements

Leave a Reply