Posted on

Lokomotif Uap di Jalur Kereta Api Bandung Ciwidey

Dalam sejarahnya, jalur kereta api Bandung Ciwidey belum pernah sekalipun dilewatin lokomotif Diesel. Lokomotif uap setia melintas di sini sampe akhir jalur eksotis ini beroperasi tahun 1972 ketika terjadi Tragedi Cukanghaur.

Jalur kereta api Bandung Ciwidey secara bertahap mulai dibangun 1 Juni 1918. Pembangunannya sendiri dibagi 2 tahap berdasarkan peraturan negara (Staatsbland) No. 345 dan 204. Tahap awal antara Bandung-Soreang, tahap kedua tanggal 18 Maret 1921 dari Soreang ke Ciwidey.

Jalur ini bermula dari Stasiun Cikudapateuh di Kota Bandung, yang sekarang cuma melayani Kereta Api Lokal Bandung Raya, tapi jalur yang mengarah ke selatan atau Ciwidey nggak langsung bercabang dari Stasiun Cikudapateuh, tapi di pertengahan antara Stasiun Cikudapateuh dan Stasiun Kiaracondong. Disitu ada halte Cibangkong Lor.

Kalo sekarang mau nyari percabangan ke Ciwidey itu posisinya abis PJL Jalan Laswi, beberapa blok sebelum masuk Stasiun Kiaracondong. Bisa juga jadiin Trans Studio Bandung sebagai patokan, karena rel-nya lewat percis di samping TSM, dan beberapa meter dari situ ada halte lagi namanya Cibangkong.

Setelah sukses menghubungkan Batavia dan Bandung, Pemerintah Kolonial Belanda lewat Staat Spoorwegen (SS) bikin jalur percabangan (hinterland) untuk membuka daerah-daerah pinggiran Bandung yang sebagian besar punya potensi ekonomi bagus. Salah satunya Ciwidey, daerah ini sampe sekarang penghasil teh. Banyak perkebunan teh di sini.

Diantaranya Rancabali yang masih berdiri pabrik teh punya PT. Perkebunan Nusantara VIII. Nah kalo kamu pernah liat atau sering konsumsi teh walini, dipabrik itulah teh walini diproduksi. Pabrik ini udah ada dari zaman penjajahan dulu.

Selain buat angkut hasil bumi, Jalur kereta api Bandung-Ciwidey juga dibangun buat angkutan penumpang. Nganterin penduduk setempat ke daerah perkotaan di Bandung.

Lokomotif Uap.

Untuk armada kereta api yang dipake di jalur ini, seperti jalur-jalur lainnya di zaman penjajahan, pake lokomotif uap. Salah satunya jenis BB 10 (SS 100 Series) buatan Jerman yang dibeli dari 2 pabrik yakni Hartman (12 unit) dan Schwartzkopff (4 unit). Didatangin mulai tahun 1899-1908 dan berbahan bakar minyak residu, batu bara atau kayu jati.

Begitu jalur kereta api Bandung Ciwidey dibuka, lokomotif udah siap buat didinasin di sini. Lokomotif BB 10 termasuk tipe Mallet, punya tekanan gandar sesuai dan cukup kuat buat dinas di jalur pegunungan. Termasuk di jalur Ciwidey ini, terutama selepas Soreang ke Ciwidey udah mulai masuk jalur pegunungan. Stasiun Ciwidey sendiri ada di ketinggian 1.106 Mdpl.

Salah satu sumber bahkan menyebutkan, lokomotif uap DD52 (SS 1250 Series) alias SI Gombar Priangan juga pernah dinas di jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey. Belum jelas memang dan mesti ditelusuri lagi, karena lokomotif jenis ini justru lebih banyak dinas di jalur kereta api Cibatu-Garut dan menghuni Dipo Lokomotif Cibatu yang sekarang statusnya cuma Sub-Dipo.

Tapi yang jelas untuk ruas Soreang-Ciwidey memang belum pernah dilewatin sama lokomotif diesel. Dari awal sampe akhir beroperasi rutin dilintasi sama lokomotif uap. Bahkan pada saat terjadi tragedi Cukanghaur tahun 1972, kereta api pengangkut kayu pinus yang mengalami PLH ditarik lokomotif uap jenis BB, kemungkinannya BB 10 ini.

Adapun lokomotif diesel cuma dinas di ruas Bandung-Soreang sampe awal tahun 1980-an, karena setelahnya jalur ini benar-benar ditutup total. Nah, karena sepanjang sejarahnya cuma lokomotif uap yang bisa bablas ke Ciwidey, ini jadi tantangan tersendiri buat reaktivasi jalur kereta api Bandung-Ciwidey.

Saat ini lokomotif yang biasa dinas di jalur pegunungan itu CC 206 yang udah rutin narik Kereta Api Argo Parahyangan dan Kereta Api Lodaya. Begitu juga Kereta Api Malabar yang bakal ketemu lagi jalur pegunungan selepas Stasiun Kertosono.

Itu artinya, lokomotif CC 206 inilah yang paling ideal buat dinas di jalur Ciwidey. Itu juga dengan catatan harus ada banyak perbaikan di blok Soreang-Ciwidey. relnya harus diganti sama R54 karena rel eksisting jelas nggak bisa dipake lagi dengan bantalan beton.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *