Posted on

Logo Kereta Api Indonesia Dari Masa ke Masa (1953-Sekarang)

Bukti kereta api Indonesia punya sejarah panjang kelihatan dari logonya yang udah empat kali mengalami perubahan. Mulai roda bersayap yang legendaris sampai logo 3 garis lekung yang kita kenal sekarang, dan ada satu logo yang terlupakan.

Sejarah panjang kereta api Indonesia dimulai pada zaman Kolonial Belanda tahun 1867. Setelah Indonesia merdeka dan mendapat pengakuan dari Pemerintah Belanda, perkeretaapian Indonesia memasuki babak baru yang dimulai pada tahun 1950 lewat SK Menteri Perhubungan, Tenaga, dan Pekerjaan Umum 6 Januari 1950.

3 perusahaan kereta api yang pernah beroperasi pada masa perang kemerdekaan: DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia), SS (Staatspoorwagen) dan VS (Verenigde Spoorwegbedrijf) digabung jadi DKA (Djawatan Kereta Api).

Roda Bersayap yang Legendaris

Dibawah DKA (Djawatan Kereta Api), perkeretaapian Indonesia memasuki babak baru. Segala sarana dan prasarana yang rusak akibat perang kemerdekaan mulai dibenahi. Begitu juga armada kereta api mulai diperbarui.

Diantara bentuk peremajaan armada waktu itu ialah pembelian Lokomotif Disel CC 200 dan Lokomotif Uap tipe D50. Diikuti datangnya beberapa gerbong baru yang sebagiannya dilengkapi fasilitas AC (termasuk gerbong kelas 3 atau setara kelas ekonomi sekarang).

Lambang (logo) keeta api Indonesia waktu dikelola DKA berbentuk roda berdayap. Logo ini boleh dibilang paling legendaris karena dipake hampir 3 dekade, yaitu eranya DKA tahun 1953-1963, PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api) tahun 1963-1971, dan PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) tahun 1971-1988.

Di awal-awal era “roda bersayap” livery kereta api rata-rata dibikin matching sama warna lokomotifnya, yakni kombinasi hijau-kuning dengan lambang “roda bersayap” di bagian depan lokomotif. Di tengah-tengah logo itu tertulis DKA, PNKA, PJKA sesuai eranya masing-masing.

Zaman roda bersayap juga belum dikenal istilah kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi seperti yang ada sekarang. Dulu adanya kelas satu (K1), kelas dua (K2) dan kelas tiga (K3). Satu keunikan pernah terjadi di era DKA waktu kedatangan gerbong baru tipe ABL dari Eropa dimana dalam satu gerbong terdiri dari 2 kelas, yakni kelas satu (K1) dan kelas dua (K2).

Ngomong-ngomong soal livery di era roda bersayap, kita juga kenal beberapa warna lho selain hijau-kuning. Ada merah putih yang biasanya dipake di kelas 2 dan sebagian kelas 1, hijau putih di kelas 3, dan biru putih di kelas 1. Ditambah lagi ada yang kombinasi kuning-marunnya Purbaya dan biru-kuningnya Tumapel. Ditambah lagi livery biru total punya Kereta Api Bima yang jadi kereta api termewah di masanya.

Sekarang lokomotif yang pake logo roda bersayap masih bisa kamu temui di Museum Kereta Api Ambarawa. Liverynya masih hijau kuning juga. Jenis lokomotif yang pake livery roda bersayap dengan warna hijau-kuning yang ada di Ambarawa antaralain D 300-23, D 301-24, BB 200-08 dan CC 200-15.

Kecuali CC 200-15, lokomotif berlivery ldan berlogo roda bersayap legendaris tipe diesel hydraulic, sementara yang masih bisa dijalanin buat narik Kereta Wisata Ambarawa-Tuntang itu tpie D 300-23 dan D 301-24.

Si “Pentagon” Biru yang Terlupakan

Di tahun 1988 atau masih era PJKA pernah diperkenalkan logo baru yang bentuknya segilima berwarna dasar biru, bergambar roda dan komponennya dibuat sedemikian rupa membentuk huruf “KA”.

Sayangnya logo “Pentagon” Biru ini cuma bertahan 2 tahun. Boleh dibilang logo ini menandai transisi dari PJKA ke Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api). Cuma dizamannya ternyata malah masih banyak lokomotif yang pake logo legendaris roda bersayap. Adapun yang rutin paling cuma KRL Rheostatic Mild Steel Batch 2 1984 dan Batch 3 1987.

Logo “Pentagon” Biru di KRL Rheostatik Mild Steel (Foto: imamnawi.blogspot.co.id)

Si “Pentagon” biru pun kini terlupakan. Jarang sekali ada yang nyimpen foto lokomotif pake logo ini dan nggak heran kalo benar-benar terlupakan. Meski jadi bagian dari perjalanan panjang kereta api Indonesia.

Angka 2 / Huruf Z dan Mulai Mencari Keuntungan

Di era 1990-an, perkeretaapian Indonesia dikelola oleh Perumka (Perusahaan Umum kereta Api) sebagai kelanjutan dari PJKA. Bedanya sama PJKA, Perumka mulai coba mencari keuntungan operasional.

Logo yang sepintas mirip angka 2 dan sekilas juga mirip huruf Z menandai perubahan ini. Livery pada semua armada dan rangkaian kereta api pun mengalami perubahan radikal. Mulai dari lokomotif yang semula kuning stripping hijau berubah jadi merah-biru ditambahin logo di muka dan samping kiri/kanan kabin masinis.

Untuk rangkaian gerbong, di zaman ini kita mulai mengenal kelas eksekuif, kelas bisnis dan kelas ekonomi. Gerbong kelas eksekutif dicat warna biru muda-biru tua, kelas bisnis warna hijau-biru tua, dan kelas ekonomi warna merah-biru tua. Khusus kelas ekonomi warnaya matching sama lokomotif.

Yang sama sekali nggak berubah cuma rangkaian KRL Rheostatic Stainless Steel 1987. Livery masih warna silver cuma pake striping aja buat ngebedain. Untuk kelas bisnis yang biasanya buat KRL Pakuan Ekspres dan Bekasi Ekspres, pake striping hijau biru. Sementara kelas ekonominya merah biru. Logonya bagian depan Kemenhub dan sampingnya Perumka.

Logo ini bertahan selama 21 tahun. Perubahan dari Perumka ke PT. Kereta Api (PT.KA) tahun 1998 dan dari PT. Kereta Api (PT.KA) ke PT. Kereta Api Indonesia (PT.KAI) tahun 2010, logo ini masih dipake. Meski demikian logo ini belum bisa menumbangkan sang legenda roda bersayap yang tetap pegang rekor sebagai yang terlama buat kereta api Indonesia. Nyaris 3 periode.

3 Garis Lekung: Kepuasan Pelanggan, Integritas, Inovasi

Inilah logo PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini. Mulai dilaunching 28 September 2011, logo ini boleh dibilang simbolnya revolusi Perkeretaapian Indonesia. Tampilannya sih simple meski nggak sesimple logo lama. Logo 3 garis lekung itu punya makna:

  • 2 strip orange melambangkan proses pelayanan prima (kepuasan pelanggan) yang ditujukan kepada pelanggan internal dan eksternal.
  • Anak panah putih melambangkan nilai integritas yang harus dimiliki insan PT. KAI dalam mewujudkan pelayanan prima.
  • 1 lekung biru melambangkan semangat inovasi yang harus dilakukan dalam memberikan nilai tambah ke stakeholders, dengan semangat sinergi di semua bidang dan dimulai dari hal-hal terkecil

Selain tiga makna diatas, logo ini jadi simbol revolusi perkeretaapian Indonesia dari zaman kegelapan menuju era baru yang jauh lebih baik. Banyak perubahan terjadi setelah logo ini dipake. Salah satu yang paling keliatan ialah pembatasan kapasitas angkut kereta api jarak jauh maksimum 100%. Artinya nggak ada lagi penumpang berdiri apalagi sampe berjubel.

Disamping itu kondisi stasiun sekarang jauh beda banget dibanding dulu. Nggak ada lagi namanya pedagang asongan atau pihak-pihak nggak berkepentingan lainnya di area peron yang memang hanya dikhususkan buat penumpang. Walaupun keberadaan mereka digantikan gerai-gerai modern tapi paling nggak jadi lebih tertata rapi dari sebelumnya.

Ditambah lagi penerapan sistem check in dan boarding pass, mirip sama Bandara. Pemesanan tiket juga udah bisa via channel external yang jumlahnya bakal terus bertambah dari tahun ke tahun. Ini jelas memudahkan calon penumpang sehingga nggak perlu buang ongkos, uang parkir, atau ngantri di stasiun.

Untuk livery kereta api sendiri, waktu pertama kali logo ini dipakai, masih berwarna biru putih (bisnis dan eksekutif satwa), abu-abu putih (eksekutif argo), dan orange (ekonomi). Khusus ekonomi livery orangenya ada yang kombinasi biru dan hijau, atau dikenal livery nutrisari dan bisa ditemuin di Kereta Api Malabar, Matarmaja, Brantas dan Sibinuang.

Itu juga masih ditambah lagi yang ombak biru di rangkaian ekonomi plus seperti Bogowonto, Gadjah Wong, Krakatau, Majapahit dan Menoreh.

Sejak Kereta Api Jayabaya kembali beroperasi pada 18 Oktober 2014 dimulailah penerapan livery “kesepakatan” atau biasa dikenal “pecut”. Pelan tapi pasti semua kereta api diganti livery ini. Terus dimana bedanya kalo semua kelas dibikin “pecut” ? Ada di pintunya, kelas eksekutif warna biru, bisnis abu-abu dan ekonomi orange.

 


DAFTAR PUSTAKA


 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.