Posted on

KRL Ekonomi Jabodetabek: “Si Kaleng” Rheostatik Stainless Steel

Salah satu armada andalan KRL Ekonomi Jabodetabek ialah Rheostatik Stainless Steel alias “Si Kaleng”. Dibeli tahun 1986 dan 1987 ternyata nggak cuma dinas sebagai KL3 (ekonomi) doang, tapi juga KL2 (bisnis) dan KL1 (eksekutif).

Masih lanjutin postingan sebelumnya “Sejuta kenangan di KRL Ekonomi Jabodetabek” kali ini kang mimin bakal ngebahas salah satu armadanya yakni “Si Kaleng” Rheostatik Stainless Steel. Memang bukan armada paling tua sih, KRL Rheostatik Stainless Steel ini dibeli dari Jepang tahun 1986-1987.

Adapun armada pertama KRL Ekonomi Jabodetabek itu KRL Rheostatik Mild Steel tahun 1976 dari Nippon Sharyo Jepang. Ciri yang paling melekat di sini pintunya cuma ada 4 (empat), 2 di kanan dan 2 lainnya di kiri. Waktu pertama kali datang ke Indonesia, bagian depannya berwarna kuning total dan jendelanya mirip sama KRL JR East 103 yang jadi semi ekspress di 2004.

Rheostatik Mild didatangin lagi tahun 1978 (Batch 2) dan terakhir tahun 1984 (Batch 3). Ada perbedaan antara batch-1 sama batch-2 dan batch-3. Selain posisi pintunya, yang mana batch-2 sama batch-3 jumlahnya 6 (enam) masing-masing 3 di kanan dan kiri, warna mukanya merah kombinasi kuning. Jendela sama kaya JR East 103.

Baru di tahun 1986, KRL Rheostatik Stainless Steel tahap pertama mulai datang 5 set atau 20 gerbong, dimana 1 set terdiri dari 4 gerbong. Tahap ke-2 datang lagi tahun 1987 sama 5 set juga. Bedanya sama angkatan 1976-1984, livery KRL Rheostatik Stainless Steel ini berwarna silver.

Nggak semua KRL Rheostatik Stainless Steel dinas sebagai KRL Ekonomi Jabodetabek (KL3). KRL ini ada yang dinas sebagai KRL Ekspress kelas bisnis (KL2) kaya KRL Pakuan Ekspres (Jakarta Kota-Bogor), Bekasi Ekspres (Jakarta Kota-Bekasi), Serpong Ekspres (Manggarai-Tanah Abang-Serpong) dan Banten Ekspres (Jakarta Kota-Tangerang).

Di tahun 1990-an ada satu set KRL Rheostatik Mild Steel yang dimodifikasi jadi KL1 (eksekutif). Mulanya KRL ini dipake sama rombongan Presiden Soeharto buat inspeksi sekaligus peresmian jembatan layang kereta api antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Jakarta Kota. Selanjutnya rangkaian KL1 ini digandengin sama KRL Pakuan Ekspres.

Toei 6000 Datang, Jadi Ekonomi Semua

KRL Ekonomi Jabodetabek mengalami kemuduran di era 1990-an. Di tahun itu mulai banyak fasilitas yang rusak dan nggak berfungsi sebagaimana mestinya. Misalnya pintu otomatis yang mulai kendor karena sering diganjal sama penumpang melebihi kapasitas angkut. Karena keseringan diganjal maka jangan heran kalo akhirnya benar-benar rusak.

Ditambah lagi atapers mulai bermunculan. Di jam-jam sibuk nggak jarang kita saksikan KRL Ekonomi Jabodetabek penuh sesak sampe atap kereta yang mestinya bukan untuk penumpang justru ikut dijejalin penumpang.

Kondisi ini ternyata nggak luput dari perhatian Kaisar Jepang, Akihito, dimana beliau sangat prihatin sama kondisi KRL Jabodetabek. Di tahun 2000, Kaisar Akihito menghibahkan rangkaian KRL Toei 6000 ke PT Kereta Api. Rangkaian ini dilengkapi fasilitas AC.

KRL Toei 6000 diplot mengisi rute-rute kereta ekspres yang sebelumnya diisi KRL Rheostatik Stainless Steel AC (KL1) dan Bisnis (KL2). Terutama di jalur-jalur padat kaya Jakarta Kota-Bogor, Jakarta Kota-Bekasi, Tanah Abang-Bogor, dan Tanah Abang-Bekasi. Kehadiran Toei 6000 praktis bikin Rheostatik Stainless Steel K1 sama K2 itu terpaksa dikandangin.

Memang masih ada yang beroperasi di jalur Serpong (kulon) sama jalur Tangerang. Tapi kedatangan KRLI Prajayana atau KRL pertama buatan Indonesia (a.k.a Djoko Lelono 3) membuat kiprah Rheostatik Stainless Steel Bisnis (K2) ikut terhenti.

Akhirnya armada Rheostatik Stainless Steel KL1 dan KL2 semuanya di downgrade jadi KL3 (ekonomi). Bangku dirubah semuanya jadi membelakangi jendela, sama toilet yang sebelumnya ada ikutan dihilangin.

Julukan “Si Kaleng” dan Livery Nyaris Nggak Pernah Berubah

KRL Rheostatik Stainless Steel ternyata punya julukan lho, yakni “Si Kaleng”. Kenapa dijuluki “Si Kaleng”, karena suara klakson atau kalo lagi bunyiin Semboyan 35 suara yang keluarnya mirip sama kaleng yang lagi diadu.

Sebenarnya suara klakson kaya itu memang cirinya KRL Rheostatik, bahkan di KRL Commuter Line sekarang rata-rata klaksonnya begitu. Cuma yang cukup kentara ya di KRL Rheostatik Stainless Steel ini, benar-benar kaya kaleng, jadi aja dijuluki “Si Kaleng”.

Satu keunikan “Si Kaleng” ialah bentuk dan livery yang nyaris nggak pernah berubah dari awal dinas tahun 1986 dan 1987. Livery dasarnya silver, cuma stripping-nya aja yang beda. Warna merah buat KRL Ekonomi Jabodetabek (KL3), hijau buat bisnis (KL2) dan biru buat eksekutif (KL1). Waktu dibikin KL3 semuanya, stripping dibikin seragam warna orange.

Bentuknya juga sama, nggak pernah berubah dari awal dibeli, cuma pas tahun 2009 aja dipasangin tralis besi di bagian depannya. Sama bagian depan juga dicat putih mendekati akhir masa dinasnya.

Saat ini, “Si Kaleng” sama saudara-saudaranya baik yang seangkatan 1986-1987 atau seniornya KRL Rheostatik Mild Steel udah purnatugas alias pensiun dan beristirahat dengan tenang di Stasiun Purwakarta, sebagian lagi di Stasiun Cikaum. Kiprahnya di jalur perkotaan Jabodetabek digantikan KRL Commuter Line.

Note: Belum abis ya gan, Mimin nanti mau bahas tentang KRL Toei 6000 yang jadi cikal bakalnya KRL Commuter Line sekarang. Nggak asyik kalo nggak ikutan dibahas. 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.