Posted on

Kereta Jepang di Indonesia (6): Kereta Api Bisnis (K2) Sebentar Lagi Punah

Rangkaian baru kereta api Harina otomatis mengakhiri operasional Kereta Api Argo Parahyangan Bisnis. Kode keras Kereta Api Bisnis (K2), salah satu barisan kereta Jepang di Indonesia, sebentar lagi akan punah. 

Per 1 Agustus 2018 Kereta Api Harina, Bandung-Surabaya Pasar Turi PP, ganti rangkaian jadi Stainless Steel gabungan K1 18 dan K3 18. Pergantian kereta ini otomatis ngefek ke Kereta Api Argo Parahyangan 31 dan 32 yang manfaatin idle-nya setiap weekend (Jum’at s.d. Senin). Sejak tanggal itu nggak ada lagi layanan Kereta Api Argo Parahyangan Bisnis. Semuanya berakhir sudah.

KERETA JEPANG DI INDONESIA (6): KERETA API BISNIS SEBENTAR LAGI PUNAH

Padahal pendahulu Kereta Api Argo Parahyangan, Kereta Api Parahyangan, ketika mulai dinas 31 Juli 1971 layanannya full kereta api bisnis (K2). Adapun kereta api eksekutif (K1) baru ada menjelang akhir tahun 1970-an. Itupun belum rutin dan masih fakultatif, baru mulai reguler menjelang akhir tahun 1980-an.

Layanan kereta api bisnis (K2) bahkan udah berakhir duluan di Kereta Api Argo Parahyangan reguler di tahun 2016 ketika titisan sang legenda dapat limpahan rangkaian ekonomi plus K3 16 ex-Mutiara Selatan. Apa yang terjadi menjelang akhir 2016 hingga 1 Agustus 2018 merupakan kode keras bahwa nggak lama lagi Kereta Api Bisnis (K2) bakal hanya tinggal kenangan alias punah.

Termasuk Armada Kereta Jepang di Indonesia.

Ngomong-ngomong Kereta Jepang di Indonesia, selama ini yang kita tau kereta Jepang identik sama yang namanya KRL (Kereta Rel Listrik) dan KRD (Kereta Rel Diesel). Kereta Jepang di Indonesia pertama yang berwujud KRL mulai datang dan dinas tahun 1976, KRL Rheostatik Mild Steel Batch-1. Armada KRL ini datang sepaket sama KRD Shinko/MCW 301.

KRL-nya dinas di jalur Jakarta-Bogor dan jalur lingkar yang udah terelektrifiaksi sejak zaman Kolonial Belanda, adapun selebihnya yang belum ada Listrik Aliran Atas (LAA) pake KRD, kaya di jalur Bekasi, Tangerang dan Kulon (Serpong-Merak), serta tentu saja di jalur Bandung Raya. KRL dan KRD yang datang tahun 1976 tersebut berasal dari satu pabrik, Nippon Sharyo.

Ternyata kereta-kereta konvensional yang biasa dinas Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) juga banyak yang berasal dari Negeri Sakura, bahkan dari Pabrik Nippon Sharyo juga, diantaranya Kereta Api Bisnis (K2). Rangkaian Kereta Api Bisnis (K2) mulai ada di tahun 1961, mengacu pada awal dinas Kereta Api Jayabaya. Kereta yang dipake kemungkinan angkatan 50-an, buatan Eropa.

Armada kereta Jepang baru datang di tahun 1964, lanjut 1965, 1966, 1978, 1980, dan 1982. Rata-rata Kereta Api Bisnis (K2) yang dinas di Indonesia, khususnya Daop 2 Bandung, buatan tahun 1982. Memang beberapa kali dijumpai ada yang buatan tahun 1965, 1966 dan 1978. Semuanya buatan Nippon Sharyo Jepang. Termasuk yang dipake Kereta Api Parahyangan, lanjut Kereta Api Argo Parahyangan.

Boleh dibilang, Kereta Api Parahyangan 31 Juli 1971 yang layanannya Full K2 itu pake kereta Jepang semuanya, perkiraan buatan tahun 1965 atau 1966. Mungkin juga ada yang Eropa punya tahun 50-an. Jadi Kereta Api Bisnis (K2) nggak ada yang diproduksi di PT.INKA Madiun.

Sedikit info, PT. INKA Madiun baru bikin kereta api di tahun 1986, itu juga Kereta Api Eksekutif, adapun Kereta Api Bisnis cuma sebatas di rehab di sana tahun 1991 untuk batch 1950-an buatan Eropa. Jadi bukan asli bikinan PT. INKA Madiun. Paling di tahun 1996, PT. INKA baru bisa produksi Kereta Api Bisnis. Itu juga armadanya bisa dihitung jari, masih kalah jumlah dibanding angkatan 80-an.

Dibiarkan Menua

Kini, Kereta Api Bisnis seperti dibiarkan menua. Dari PT. INKA sendiri memang udah nggak lagi produksi, atau sekedar nge-rehab angkatan-angkatan tua. Beberapa kereta api bisnis bahkan udah jadi gerbong barang, dan yang beruntung diupgrade jadi Kereta Api Eksekutif (K1) dan Kereta Wisata Priority (S1), jadi masih ngangkut penumpang meski dalam wujud berbeda.

Penghapusan kereta api bisnis memang udah diwacanakan sejak tahun 2010, pas pertama kali Kereta Api Bogowonto (pelopor kereta api ekonomi plus ber-AC sentral dengan kereta buatan PT.INKA Madiun) dinas melayani rute Pasar Senen-Kutoarjo. Alasannya fasilitas nggak jauh beda sama kereta api ekonomi.

Dan sekarang wacana itu pelan-pelan mulai terealisasi. Ambil contoh di Daop 2 Bandung, Kereta Api Argo Parahyangan reguler udah nggak ada lagi layanan kereta api bisnis. Itu juga diikutin sama Kereta Api Harina yang ganti layanan jadi eksekutif dan ekonomi plus stainless steel. Efeknya jelas ke KA 31 dan KA 32. Padahal sebelumnya idle Senja Utama Solo juga udah ganti jadi K1 dan K3 stainless steel.

Tersisa 3 kereta api lagi yang masih mempertahankan layanan kereta api bisnis di Daop 2 Bandung: Kereta Api Lodaya (Bandung-Solo Balapan), Kereta Api Malabar (Bandung-Malang), Kereta Api Mutiara Selatan (Bandung-Surabaya Gubeng-Malang). Ditambah satu rangkaian punya Daop 4 Semarang, Kereta Api Ciremai Ekspres (Bandung-Semarang Tawang). Total 4 kereta api masih punya layanan kereta api bisnis (K2).


Referensi: 

Trains & National Railways. Skyscrapercity.Com. https://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1600845&page=277

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.