Posted on

Kereta Api Lebih Berwarna Sebelum Livery Seledang Pecut

Meski dianggap elegan ternyata livery selendang pecut dinilai nggak lebih baik daripada livery lama yang menjadikan kereta api lebih berwarna.

Diakui memang iya, dulu rangkaian kereta api sangat berwarna. Ngebedainnya pun gampang. Warna abu-abu stripping ombak jadi trademark-nya kelas eksekutif, khususnya eksekutif argo. Warna biru jadi punya kelas bisnis dan eksekutif satwa. Adapun kelas ekonomi dengan fresh orange-nya, bahkan ada satu yang kombinasi hijau muda sampe disebut “nutrisari”

Ada lagi ombak biru jadi simbol kelas ekonomi plus yang dipake di rangkaian kereta api Bogowonto, kereta api Gadjah Wong, kereta api Krakatau (sekarang jadi Singosari), kereta api Majapahit dan Kereta Api Malioboro Ekspres yang dirangkai sama kelas eksekutif satwa. Belum lagi rangkaian lokalan yang makin membuat kereta api dulu jadi sangat berwarna.

kereta-api-lebih-berwarna-sebelum-livery-seledang-pecut

“Dipelopori” Kereta Api Jayabaya

Tapi warna-warni kereta api Indonesia mulai pudar seiring beroperasinya Kereta Api Jayabaya rute Jakarta Pasar Senen-Malang via Surabaya Pasar Turi. Kereta baru stok lama ini diluncurkan lagi dengan layanan kelas ekonomi plus dan mengisi jalur kereta api baru antara Stasiun Surabaya Pasar Turi dan Stasiun Surabaya Gubeng yang tadinya kepisah.

Kereta Api Jayabaya jadi “pelopor” livery selendang pecut. Ternyata setelah peluncuran itu mulailah livery selendang pecut seolah jadi virus dan menjangkiti kereta api lainnya. Setelah rangkaian rebranding itu, giliran kereta api Cirebon Ekspres yang kena virus selendang pecut, meski dibarengi pembaruan dari sisi interiornya pake motif batik.

Nggak lama berselang, giliran Kereta Api Lokal Bandung Raya kebagian livery selendang pecut padahal belum semuanya rangkaian kereta api jarak jauh di Daop 2 Bandung pake livery yang punya nama lain kesepakatan itu.

Nah terus apa bedanya sama Jayabaya punya? Ternyata yang dipake Cirebon Ekspres cuma bedain warna pintunya aja. Waktu itu kereta api Cirebon Ekspres masih punya layanan kelas bisnis, buat ngebedain pintu kelas bisnis diwarnai abu-abu dan eksekutif-nya warna biru. Sementara kelas ekonomi pintunya orange.

Agak aneh memang karena Kereta Api Jayabaya yang jadi “pelopor” pintunya warna biru, padahal kelas ekonomi plus. Katanya sih ada salah pemilihan warna waktu awal diluncurin. Harusnya bukan warna biru tapi orange layaknya kelas ekonomi. Jadi aja begitu gerbong ekonomi “dipecutin” pintunya seragam warna orange.

fresh-orange-2

Si Ombak Biru pun Mulai Pudar

Virus pecut ternyata turut menjangkiti rangkaian kereta api ekonomi plus berlivery ombak biru. Padahal corak inilah yang dulu jadi trademark-nya kelas ekonomi plus. Bedain sama ekonomi reguler yang warna orange. Masuk tahun 2016 pelan-pelan si ombak biru mulai memudar, dan itu bisa kita saksikan di rangkaian Kereta Api Bogowonto dan Gadjah Wong.

Livery kedua kereta itupun mulai “berwarna” ada yang tetap mempertahankan corak lama “ombak biru” ada sebagian lagi yang udah pake livery selendang pecut. Pintunya pun diwarnai orange layaknya rangkaian kereta api ekonomi reguler yang bersubsidi.

Meski masih bisa ditemuin, kelihatannya masa kejayaan “ombak biru” bakal segera berakhir seiring mulai banyaknya rangkaian gerbong ekonomi plus angkatan 2010-2014 yang dipakein livery selendang pecut.

Jadi Agak Monoton

dua-warna-1-sawunggalihPenyeragaman livery oleh PT.KAI jadi livery selendang pecut harus diakui menjadikan kereta api Indonesia sekarang agak monoton dari segi eksterior. Nggak lagi berwarna kaya dulu sebelum livery selendang pecut ada. Parahnya lagi di kelas eksekutif nyaris susah bedain mana eksekutif argo dan mana eksekutif satwa, semuanya diseragamin pecut berpintu biru.

Begitu juga kelas ekonomi. Tak ada fresh orange-nya ekonomi 106 penumpang dan lokalan ex-MCW 301, tak ada lagi nutri sari, ombak biru pun semakin memudar. Semua diseragamin pake livery selendang pecut berpintu orange. Jadi buat ngebedain reguler atau plus, kapasitas 80 atau 106 cuma dari angkatannya aja.

Dibawah 2010 berarti masih kapasitas 106 penumpang, lebih-lebih angkatan jadul tahun 60-an. Mulai 2010 sampe 2014 itu nggak jauh-jauh dari Bogowonto, Gadjah Wong, Jaka Tingkir, Majapahit, Malioboro Ekspres sama Singosari.

Tapi paling nggak kita masih bisa bedain sama angkatan 2016-2017 yang jendelanya mirip gerbong eksekutif K1 0 16. Apalagi angkatan 2017 alias Ekonomi Premium (termasuk dipake Kereta Api Argo Parahyangan Premium), itu beda sendiri dan nggak pake livery selendang pecut.

 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *