Posted on

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya

Sebelum semua gerbong diseragamin pake livery selendang pecut, sebagian kereta api argo masih keliatan jati dirinya. Diantaranya Kereta Api Argo Parahyangan. Sayang setelah pecut menyerang, jati diri sebagai kereta api dengan kelas tersendiri mulai pudar dan puncaknya dikawin paksa sama ekonomi plus. 

Ngomong-ngomong soal kereta api argo, pastinya nggak bakal bisa lepas dari asal usulnya. Kereta Api Argo mulai dinas di tahun 1995, dipelopori sama 2 rangkaian yakni Kereta Api Argo Bromo (JS950) rute Gambir-Surabaya Pasar Turi dan Kereta Api Argo Gede (JB250) rute Gambir-Bandung. Kehadirannya sekaligus kado buat 50 tahun kemerdekaan Indonesia.

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (1/7)

Kereta Api Argo, sekalipun kelasnya eksekutif, tapi beda banget sama eksekutif pada umumnya. Gerbong yang dipake jelas buatan dalam negeri, dalam hal ini PT. INKA Madiun, dan beda paling mencolok pintu gesernya otomatis. Ditambah lagi keberadaan single seat waktu itu mutlak punya kereta api argo. Ini jelas jadi pembeda antara eksekutif argo sama eksekutif satwa.

Masuk awal millenium, perbedaan “kasta” itu kian nampak, karena lagi-lagi ada perbedaan nyata antara eksekutif argo dan eksekutif satwa. Apalagi kalo bukan fasilitas TV. Kereta Api eksekutif biasa, lebih-lebih kalo digandengin sama kelas bisnis yang masih kipasan, nggak punya fasilitas ini. Udah gitu segi waktu tempuh, kereta api argo lebih cepat daripada yang lain dan dapat prioritas lebih kalo lagi silang atau susulan.

Mulai Dicampur Tapi Masih Ada Kebanggan

Tanggal 26 April 2010 bakal selalu dikenang sebagai hari terakhir beroperasinya sang legenda Kereta Api Parahyangan, rute Bandung-Gambir PP. Kereta Api yang udah jadi icon “commuters” Bandung-Jakarta tersebut harus pensiun karena nggak kuat nanggung kerugian akibat menjamurnya Travel, dampak dibukanya Tol Cipularang tahun 2004.

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (3/7)

Semula, PT.KAI berencana mau dinasin Kereta Api Argo Gede aja, yang masih ada peminat dan nggak rugi terlalu parah seperti sang legenda. Tapi rencana ini ternyata nggak disetujui sama para pelanggan setia kereta api Parahyangan terutama kelas bisnis. Mereka tetap pengen ada layanan kereta api yang terjangkau dari Bandung ke Jakarta.

Untuk mengakomodasi mereka, PT. KAI kembali berencana bakal nambahin 1-2 gerbong kelas bisnis (waktu itu belum ber-AC) di Kereta Api Argo Gede di jam-jam tertentu. Jadwal perjalanannya pun dijadwal ulang jadi pake slot yang sebelumnya ditinggalin sama Kereta Api Parahyangan. Ternyata wacana ini pun dianggap belum memuaskan, masalahnya nama Parahyangan seolah sulit untuk dilupakan begitu aja.

Setelah melalui berbagai proses termasuk temu pelanggan, dipilihlah nama Argo Parahyangan sebagai pengganti Argo Gede. Kereta Api Argo Parahyangan mulai dinas 27 April 2010, menggabungkan layanan eksekutif argo peninggalan Argo Gede sama kelas bisnis ex-Parahyangan. Sekali jalan, Kereta Api Argo Parahyangan narik 3-4 gerbong eksekutif argo dan 2-3 gerbong bisnis.

Seiring berjalannya waktu, Kereta Api Argo Parahyangan kembali ke khitahnya sebagai eksekutif argo, meski masih ada layanan kelas bisnis di jam-jam tertentu. Titisan sang legenda mulai menemukan lagi jati dirinya sebagai kereta api argo yang punya kelas tersendiri.

Hadirnya Livery Selendang Pecut

Kebanggaan itupun terus berlanjut sampe di tahun 2016, dimana livery selendang pecut mulai bermunculan dan PT. KAI mulai melakukan semacam proses standardisasi, dimana antara eksekutif argo yang dulunya punya kelas tersendiri sama eksekutif satwa nggak lagi ada perbedaan mencolok. Mulai kursi dirubah jadi kulit dari semula beludru, meski masih ada sebagian yang tetap pake beludru.

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (5/7)

Tapi dari segi interior kita masih bisa liat perbedaan antara eksekutif argo dan eksekutif satwa biasa. Warna abu-abu stripping ombak menandakan itu rangkaian kereta api Argo, adapun eksekutif satwa biasa itu livery-nya warna biru atau kalopun pake abu-abu layaknya argo, tanpa stripping ombak.

Sayang sekali setelah semua livery diseragamin jadi livery selendang pecut, mulailah kita susah bedain mana eksekutif argo dan mana eksekutif satwa. Gerbongnya nggak jarang ditukar-tukar. Kadang kita liat sendiri ada gerbong eksekutif satwa nyantol di kereta api argo, atau sebaliknya gerbong kereta api argo nyantol di eksekutif satwa, bahkan digandengin sama kelas bisnis atau ekonomi.

Belum lagi interiornya. Pintu otomatis mulai jarang ditemuin. Sebagian kelas eksekutif bahkan nggak punya sandaran kaki dan tanpa meja lipat. Begitu juga single seat yang semula jadi ciri khasnya eksekutif argo mulai bermunculan di gerbong eksekutif satwa.

Saking dipaksainnya, di sebagian gerbong retrofit kaya K1 0 86 space yang seharusnya buat nyimpen barang malah diisi penumpang. Dibikinlah single seat disitu dan nggak kebagian jendela atau sering disebut “tembok ratapan”. Karena area itu seharusnya memang bukan buat penumpang, tapi semacam rak bagasi buat koper.

Kawin Paksa sama Ekonomi Plus. 

Balik lagi ke Kereta Api Argo Parahyangan, di masa-masa arus mudik Lebaran 2016, layanan kelas bisnis mulai ada di semua perjalanan kereta api Argo Parahyangan, kecuali KA 33 dan 34 yang pake idle Turangga. Gerbong kelas bisnis yang ada diluar KA 21, 27, 24 dan 30 awalnya gerbong aling-aling. Cuma buat nambah pendapatan, akhirnya gerbong itu mulai diisi penumpang. Biasanya cuma tersedia 1 gerbong aja.

Kawin Paksa Melahirkan Kereta Api Argo Ekonomi (2/4)

Bersamaan masa angkutan Lebaran 2016, PT. KAI luncurin gerbong ekonomi terbaru K3 2016. Awalnya didinasin di kereta tambahan, kaya Kutojaya Utara Ekstra Lebaran. Usai masa angkutan Lebaran 2016, gerbong-gerbong itu mulai didinasin reguler di 3 rangkaian kereta api yang sebelumnya full bisnis: Kereta Api Fajar Utama Jogja, Kereta Api Senja Utama Jogja, dan Kereta Api Mutiara Selatan.

Sayang gerbong baru yang keliatan wah dari luar ternyata menyimpan bobrok di interior. Jarak antar kursi terlalu sempit, ditambah kursi 100% paten nggak bisa diatur sandarannya. Kondisi kaya gini dinilai nggak layak buat perjalanan jauh, kaya Kereta Api Mutiara Selatan dari Bandung ke Malang via Surabaya Gubeng. Penumpang pun protes, bahkan sampe bikin petisi di Change.Org

PT. KAI yang denger keluhan penumpang akhirnya balikin lagi kelas bisnis di 3 rangkaian tadi. Tertanggal 21 Oktober 2016, Kereta Api Argo Parahyangan mulai babak baru dimana gerbong eksekutif argo-nya harus dikawin paksa sama gerbong ekonomi plus yang tadinya dipake Mutiara Selatan. Berubahlah layanan kelasnya dari semula eksekutif argo-bisnis jadi eksekutif argo-ekonomi plus.

Disinilah mulai muncul riak-riak kecil “Argo kok Ekonomi” meski belum semasif waktu Kereta Api Argo Parahyangan Premium mulai dinas. Meski ada kelas ekonomi plus, Kereta Api Argo Parahyangan reguler masih ketolong sama layanan eksekutif argo-nya. Sehingga meme itu nggak muncul di sini.

Meskipun begitu, kebanggan sebagai kereta api argo yang punya kelas tersendiri jelas udah luntur. Lagi-lagi karena harus terima nasib dikawin paksa sama kelas ekonomi plus. Jadilah mulai 21 Oktober 2016 kereta api Argo Parahyangan terdiri dari 4 gerbong eksekutif argo, 4 gerbong ekonomi plus K3 2016, dan 1 gerbong restorasi dan pembangkit (MP3).

Photo Gallery Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya.

Berikut beberapa foto transformasi kereta api Argo Parahyangan yang semula masih punya kebanggaan dan jati diri sebagai kereta api argo, sampe dikawin paksa sama ekonomi plus K3 2016:

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (3/7)

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (4/7)

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (6/7)

Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya (7/7)

Kawin Paksa Melahirkan Kereta Api Argo Ekonomi (3/4)

Kawin Paksa Melahirkan Kereta Api Argo Ekonomi (4/4)

Advertisements

One thought on “Kereta Api Argo Parahyangan dan Jati Dirinya

  1. […] Akhirnya Daop 2 Bandung kebagian juga jatah kereta wisata Priority. Setelah sebelumnya nyantol di Kereta Api Argo Dwipangga dan Kereta Api Argo Lawu (Gambir-Solo Balapan), Kereta Api Taksaka (Gambir-Jogjakarta), serta Kereta Api Sembrani (Gambir-Surabaya Pasar Turi), kereta wisata nan mewah dibawa sama titisan sang Legenda, Kereta Api Argo Parahyangan. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.