Posted on

Jalur Kereta Api Mati di Jakarta (1): Manggarai-Jakarta Kota Bawah

Tanpa kita sadari ternyata ada beberapa jalur kereta api mati di Jakarta, salah satunya antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Jakarta Kota (bawah) yang mati setelah ada jalur layang. Sisakan bekas jembatan di depan Masjid Istiqlal.

Jalur kereta api mati alias rel mati mulai ada sejak zaman penjajahan Jepang tahun 1942-1945. Di era itu beberapa jalur terutama peninggalan perusahaan kereta api swasta Belanda banyak yang ditutup.

Relnya dicabut dan dipindah ke tempat lain misalnya di jalur Maos-Purwokerto Timur punya SDS relnya dipindahin ke Kachanaburi Thailand sama jalur Rancaekek-Tanjungsari punya SS dibawa ke Bayah buat dibikin jalur kereta api baru di sana, menghubungkan Saketi-Bayah.

Setelah Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, jalur kereta api mati malah makin bertambah, terutama di masa Orde Baru, dimana pemerintahan waktu itu lebih fokus sama pembangunan jalan raya hingga mematikan jalur kereta api terutama lintas cabang. Di antaranya jalur kereta api Semarang-Jogja via Ambarawa.

Di Daop 2 Bandung ada jalur kereta api Bandung-Ciwidey, Cibatu-Garut-Cikajang, dan Banjar-Cijulang yang ditutup periode 1975-1985. Alasannya nggak jauh-jauh karena kalah saing sama angkutan jalan raya yang dianggap lebih fleksibel. Buat ngangkut barang misalnya, truk dianggap lebih efisien karena langsung point-to-point daripada kereta api.

Jalur Kereta Api Mati di Jakarta

Ternyata cerita keberadaan rel mati bukan cuma rerjadi di daerah. Di ibukota Jakarta tanpa kita sadari ada jalur kereta api mati. Bedanya sama yang di daerah, jalur kereta api mati di Jakarta udah nggak bisa lagi direaktivasi dan cuma satu jalur yang berhasil direaktivasi yakni Jakarta Kota-Tanjung Priok yang sekarang jadi bagian dari layanan KRL Commuter Line (Pink Line).

Jalur kereta api mati di Jakarta ada yang udah benar-benar mati di zaman kolonial Belanda. Cuma bedanya waktu itu karena pihak Belanda-nya sendiri mau menata ulang Kota Batavia. Jalur yang dimatikan itu mulai dari Stasiun Batavia Noord (bekas NIS) dan Batavia Zuid (BOS).

Kedua stasiun terminus itu dibongkar, layanan kereta api dipindah ke Stasiun Batavia Staad (sekarang Stasiun Jakarta Kota) yang mulai dibuka tahun 1926. Sebenarnya posisi Stasiun Batavia Staad itu berdiri di atas lahan bekas Stasiun Batavia Zuid punya BOS. Disinilah kemudian muncul istilah “Beos” sebagai nama lain Stasiun Jakarta Kota.

Sebelumnya di tahun 1913, percabangan dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Salemba hingga Stasiun Kramat juga dibongkar semuanya dan cuma nyisain satu jalur Pegangsaan-Salemba buat angkutan Opium. Jalur kereta api dari Stasiun Tanah Abang digeser ke selatan menelusuri Banjir Kanal Barat sampe Stasiun Manggarai (selesai dibangun 1918).

Jejak percabangan Tanah Abang ke Cikini-Salemba-Kramat sekarang udah susah ditemuin lagi, kecuali bekas jembatan di atas Sungai Ciliwung dan bekas Stasiun Salemba yang udah mulai ketutup sama pemukiman penduduk. Malah yang Tanah Abang-Cikini udah nggak keliatan lagi bekasnya, udah jadi kawasan elite Menteng.

Bekas Jembatan di samping Masjid Istiqlal

Tapi ada satu yang sering kita nggak sadar yaitu keberadaan bekas jembatan kereta api di dekat Masjid Istiqlal antara Stasiun Juanda sama Stasiun Gambir. Disitu ada kaya jalan kecil sebelah masjid. Belum tau nama jalannya tapi yang jelas jalan itu sekarang jadi akses paling cepat dari Stasiun Juanda ke Stasiun Gambir.

Terutama buat kamu yang baru turun dari KRL Commuter Line mau ngelanjutin perjalanan naik Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) dari Stasiun Gambir, jalan di samping masjid itulah akses paling dekat dan cepat.

Sebenarnya, jalan yang kamu lewatin itu dulunya rel kereta api lho, buktinya disitu ada jembatan di atas percabangan Sungai Ciliwung yang lewat Glodok. Nah jembatan itulah yang masih tersisa dari bekas jalur kereta api Manggarai-Jakarta Kota yang kini udah digantiin sama jalur layang.

Jembatan ini adalah bagian dari jalur kereta api Jakarta Kota-Manggarai yang dibangun tahun 1876. Semula jalur ini membentang dari Stasiun Batavia Noord sampe Buitenzorg (Bogor), tapi mulai 1926 jalurnya berubah jadi Batavia Staad (Jakarta Kota) – Manggarai – Buitenzorg, terus nyambung sampe ke Tanah Priangan. Berarti bagian dari sejarah panjang juga dong.

Karena lalu lintas ibukota semakin padat di akhir 1980-an, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub bikin kebijakan baru bangun jalur kereta api melayang (jalur layang) antara Manggarai-Jakarta Kota. Pembangunan dimulai tahun 1988 dan selesai tahun 1992. Mulai 1992, sarana dan pra sarana kereta api dipindah ke jalur baru (jalur layang).

Nah dengan adanya jalur layang itu otomatis jalur kereta api Manggarai-Jakarta Kota peninggalan Belanda ditutup total dan berubah jadi jalan raya biasa hingga jalan setapak, salah satunya di samping Masjid Istiqlal ini. Sisa-sisa sejarah hampir semuanya hilang dan bekas jembatan inilah satu-satunya yang masih tersisa hingga kini.

jalur-kereta-api-mati-di-jakarta-1-manggarai-jakarta-kota-bawah (2)

jalur-kereta-api-mati-di-jakarta-1-manggarai-jakarta-kota-bawah (3)

InSyaaAlloh bakal dilanjutin lagi “Jalur Kereta Api Mati di Jakarta (2): Stasiun Salemba”

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *