Posted on

Jalur Kereta Api Bandung Ciwidey: Percabangan ke Selatan

Jalur Kereta Api Bandung Ciwidey termasuk satu diantara banyak jalur non-aktif yang bakal direaktivasi atau diaktifkan kembali. Malah kabar terakhir udah dapat dukungan dari menteri BUMN dan sebagiannya bakal dibangun melayang (elevated).

Dalam sejarahnya, perkembangan Kota Bandung memang nggak bisa lepas dari si ular besi alias kereta api. 17 Mei 1844 jadi hari bersejarah. dimana hari itu Kota Bandung yang awalnya cuma desa terpencil di Priangan akhirnya terhubung rel kereta api dari Batavia (Jakarta) via Sukabumi.

Jalur kereta api ini ternyata nggak berhenti sampe di Stasiun Bandung, tapi diperpanjang ke Cicalengka (10 Septemnber 1844) hingga akhirnya nyambung sampe ke Surabaya. Nah, siapapun yang mau bepergian ke Jogja atau Surabaya di zaman itu pasti lewat Bandung, karena jalur Cirebon belum dibangun.

Di dalam kota Bandung sendiri, perusahaan Kereta Api punya pemerintah Hindia Belanda, Staat Spoorwegen (SS) bikin jaringan rel kereta api dalam kota atau hinterland. Sedikit info, sebelum  dibablasin sampe ke Surabaya, perpanjangan ke Cicalengka dihitung hinterland juga.

Salah satu jalur percabangan yang dibangun Staat Spoorwegen (SS) ialah Bandung-Ciwidey ke arah selatan tahun 1923. Kenapa pemerintah bikin percabangan ke arah selatan Bandung? Wilayah ini dinilai sangat potensial secara ekonomi karena mayoritasnya kawasan perkebunan, tertama teh dan kina.

Pemerintah Kolonial Belanda butuh sarana transportasi yang cepat, efektif dan efisien buat ngangkut hasil bumi melimpah dari Bandung Selatan, dimana sebagaiannya juga komoditas ekspor. Maka dibangunlah jalur kereta api Bandung-Ciwidey. Selain buat angkutan hasil bumi, kereta api di jalur itu juga buat angkutan penumpang.

Stasiun Ciwidey dan Penanda Waktu Imsak.

Jalur kereta api Bandung Ciwidey dimulai dari Stasiun Cikudapateuh. Stasiun itu posisinya ditengah antara Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong. Stasiun Cikudapateuh saat ini cuma melayani pemberangkatan Kereta Api Lokal Bandung Raya.

Cuma, dari Cikudapateuh jalurnya masih lurus ke arah Kiaracondong ngikutin jalur utama, baru di daerah Cibangkong Lor, belok ke arah selatan. Nah jalur ke selatan itulah ngarahnya ke Ciwidey. Kalo sekarang posisinya nggak jauh dari Trans Studio Bandung. Malah percis di sebelahnya ada kaya bekas rel kereta api dan plang “Tanah Milik PT. KAI”.

Setelah Halte Cibangkong Lor, ada lagi Halte Cibangkong. Nah bekas halte ini beberapa meter dari Trans Studio Bandung. Dari sini sebetulnya ada percabangan lagi ke arah kompleks militer. Waktu jalur Bandung-Ciwidey mulai non aktif tahun 1979, rel yang ke kompleks militer masih aktif dipake buat ngangkut perlengkapan TNI.

Terus ke selatan sampe wilayah Buah Batu, ada Halte Buah Baru, abis itu Halte Bojongsoang hingga ketemu lagi Stasiun Dayeuhkolot sebelum nyeberang jembatan Sungai Citarum. Bekas jembatan yang sekarang udah jadi jembatan penyeberangan orang, posisinya percis di samping jalan utama Dayeuhkolot-Banjaran.

Di Stasiun Dayeuhkolot, rel-nya bercabang satu ke Majalaya satunya lagi ke Ciwidey. Tapi sekarang kita bahas yang Ciwidey dulu ya, Majalaya nanti InSyaaAlloh dibahas tersendiri. Oh iya, ngomong-ngomong soal Dayeuhkolot, daerah ini nggak bisa lepas dari sejarah lainnya yakni Bandung Lautan Api.

Dulu disini terjadi pertempuran sengit antara rakyat dan TKR melawan tentara Sekutu dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Alhamdulillah mereka berhasil menuntaskan misi utama meledakkan gudang senjata punya Sekutu meski sukses itu harus dibayar mahal karena gugurnya 2 putera terbaik bangsa, Muhammad Toha dan Muhammad Ramdhan.

Balik lagi ke jalur Kereta Api Bandung Ciwidey, dari Stasiun Dayeuhkolot sampe Stasiun Ciwidey ada 2 stasiun (Stasiun Banjaran dan Stasiun Soreang) sama 8 halte, antaralain:

  • Halte Kulalet, Halte Pamengpeuk, Halte Cikupa (antara Stasiun Dayeuhkolot-Stasiun Banjaran).
  • Halte Cangkuang, Halte Citaliktik (antara Stasiun Banjaran-Stasiun Soreang)
  • Halte Sadu, Halte Cukanghaur, Halte Cisondari (antara Stasiun Soreang-Stasiun Ciwidey).

Stasiun Ciwidey jadi stasiun akhir atau terminus di jalur eksotis Bandung Selatan ini. Stasiun ini cukup ramai di masanya, karena kereta api benar-benar jadi andalan buat angkutan hasil bumi dan penumpang. Stasiun ini juga punya turntable atau pemutar lokomotif, karena dalam sejarahnya cuma lokomotif uap DD52 (SS 1250 Series) alias Si Gombar.

Ada yang unik disini. Kereta Api pertama dari Ciwidey ke Bandung berangkat jam 04.30 pagi dijadiin penanda waktu imsak oleh masyarakat setempat. Jadi kalo si Gombar udah bunyiin Semboyan 35 itu artinya kamu udah mesti siap-siap berangkat ke masjid buat shubuhan.

Berakhir di Cukanghaur

Sayang keberadaan si ular besi di Bandung Selatan ini harus berakhir tragis di Cukanghaur. Tahun 1972 sebuah rangkaian kereta api barang bergerak dari Ciwidey ke Bandung, melewati jalur turunan di sekitar Cukanghaur, Kabupaten Bandung. Karena lelebihan muatan dan jalur sedikit ekstrem, kereta api itu terguling ke sawah.

Tercatat 3 orang penumpang, termasuk kepala Stasiun Ciwidey yang ikut di dalamnya, meninggal dunia. Kecelakaan ini menandai akhir dari jalur kereta api Bandung-Ciwidey. Sebetulnya sebelum PLH Cukanghaur itu kereta api di jalur Ciwidey udah mulai sepi penumpang.

Kereta Api Barang tadi jadi satu-satunya yang masih melintas di situ. Itu juga cuma di hari Senin dan Kamis, sehingga dikasih julukan “kereta senin-kemis” sama masyarakat sekitar. Sedianya, muatan yang diangkut itu bakal dibawa ke Bandung dan akhirnya ke Jakarta. Selain overload, kurangnya perawatan jadi sebab terjadinya kecelakaan tragis tersebut.

Reaktivasi Jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey

Setelah lama non-aktif, jalur kereta api Bandung Ciwidey rencananya bakal direaktivasi. Alasan kenapa jalur ini mau diaktifkan kembali nggak lepas dari kondisi jalan akses menuju Ciwidey yang sering macet, baik jalur Toha-Banjaran dan jalur Kopo-Soreang.

Memang sekarang jalan tol Pasir Koja-Soreang juga lagi dibangun, tapi perlu diingat jalan tol itu bukan untuk jangka panjang. Sifatnya cuma jangka pendek, mindahin kendaraan dari jalur utama yang ada sekarang. Jadi lama-lama juga bakalan macet, percis kaya Tol Cipularang.

Karena itulah reaktivasi jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey dipandang penting guna lebih menggairahkan pariwisata di Bandung Selatan, terutama Ciwidey. Apalagi kalo dilihat, jalur Kereta Api Bandung Ciwidey ini bersinggungan sama jalur kereta cepat Jakarta Bandung. Jadi sangat mungkin dibikin terintegrasi.

Secara ekonomi, reaktivasi Jalur Kereta Api Bandung-Ciwidey memang bagus dan prospek, tapi masalahnya banyak jalan rel yang sekarang udah beralih fungsi jadi pemukiman warga. Meski sejatinya mayoritas tanahnya masih punya PT. KAI. Terutama yang ada di wilayah kota Bandung. Rencananya, jalur ini dibikin melayang (elevated) begitu masuk Kota Bandung.


REFERENSI

 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *