Posted on

Bekas Jalur Kereta Api Kota Manggarai (Bawah) di Stasiun Gambir

Bekas jalur kereta api kota Manggarai (bawah) di Stasiun Gambir bisa ditemuin nggak jauh dari pintu masuk sebelah utara. Percis disamping Alfa Express dan Gallery UKM

Lama banget ya nggak ngepost? Iya, karena banyak orderan Tiket Kereta Api Lebaran dan ngutak atik channel YouTube jadi aja blog sedikit nggak keurus. InSyaaAlloh mulai sekarang akan ada postingan lagi paling nggak dalam sehari ada satu postingan baru. Untuk posting setelah lama hibernasi inSyaaAlloh kita akan bahas bekas rel kereta api di area parkir Stasiun Gambir, dekat pintu utara.

Rel di area parkir ini boleh jadi bekas jalur kereta api kota Manggarai waktu masih di bawah atau belum dikeatasin kaya sekarang. Memang agak susah nemuin sisa-sisa rel bawah ini, secara jalurnya udah di elevated sejak tahun 1992 dan bekasnya yang dibawah udah berubah jadi jalan biasa 2 lajur.

Bekas Jalur Kereta Api Kota Manggarai (Bawah) di Stasiun Gambir (1/2)

Jalur Peninggalan NIS

Ngomong-ngomong soal jalur kereta api kota manggarai yang dulu nggak akan bisa lepas dari sejarah panjang perkeretaapian Indonesia. Jalur ini dibangun 15 Oktober 1869 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau lebih dikenal NIS / NISM. Sebuah perusahaan kereta api swasta di era Hindia Belanda. Jalur ini membentang dari Stasiun Batavia Noord sampe Stasiun Buitenzorg (Bogor). Ngikutin jalur yang ada sekarang.

Dari Batavia Noord ke Buitenzorg melewati stasiun dan halte berikut: Overweig Sawah Besar, Halte Noordwijk, Halte Koningsplein, Overweig Pegangsaan, Mester Cornelis NIS, Halte Pasar Minggoe, Halte Lenteng Agoeng, Halte Pondok Tjina, Halte Depok, Halte Tjitajam, Halte Bodjong Gedeh, dan Halte Tjileboet.

Nah, Halte Koningsplein ini jadi cikal bakal Stasiun Gambir yang kita kenal sekarang. Dulu bangunannya cuma halte kecil, posisinya beberapa ratus meter selatan Stasiun Gambir sekarang, ya bisa jadi mengarah ke Stasiun Gondangdia, atau posisi percisnya antara Gambir-Gondangdia sekitar Medan Merdeka Selatan.

Halte Koningsplein masih beroperasi sampe 1884, terus digantiin Stasiun Weltevreden yang resmi beroperasi 4 Oktober 1884. Stasiun ini dibangun di lokasi Stasiun Gambir sekarang.

Diambil Alih Staatspoorwegen (SS)

Tahun 1913 jalur Batavia Noord-Buitenzorg dibeli Staatspoorwegen (SS), tujuannya nggak lain untuk efektivitas transportasi dari Batavia ke Priangan yang waktu itu masih lewat Sukabumi-Cianjur. Sebelumnya dari Bandung ke Batavia harus turun dulu di Buitenzorg ganti kereta ke Batavia karena beda perusahaan. Jalur Batavia-Buitenzorg dikelola NIS sementara Buitenzorg-Bandung-Cicalengka dikelola SS.

Pengambilalihan jalur oleh SS sekaligus penataan ulang jalur-jalur kereta api yang ada di Batavia. Penataan ini mau nggak mau harus mentutup sebagian stasiun yang ada kaya Mester Cornelis NIS digantikan Stasiun Manggarai. Penutupan jalur ke Tanah Abang yang lewat kawasan Menteng dan dari Cikini ke Kramat/Sentiong yang berdampak pada hilangnya fungsi Stasiun Salemba sebagai stasiun sentral di era NIS.

Jalur Tanah Abang digeser ke selatan mengikuti alur Banjir Kanal Barat kaya sekarang. Terus dibangun juga jalur kereta api yang ke Mester Cornelis (Jatinegara). Semua jalur itu bertemu di Stasiun Manggarai (MRI).

Stasiun Weltevreden sendiri akhirnya direnovasi total tahun 1928. Bagunannya dirubah jadi corak art deco. Nah bangunan Stasiun Gambir jalur bawah itu sebenarnya mulai dibangun tahun 1928. Namanya pun jadi Stasiun Weltevreden SS, kemudian lebih dikenal sebagai Stasiun Gambir.

Jalur Elevated tahun 1992

Masuk awal tahun 1990-an, karena kemacetan yang semakin parah di JPL, jalur kereta api kota Manggarai dibikin elevated (melayang). Jalur elevated ini mulai beroperasi total di tahun 1992, bersamaan ini Stasiun Gambir dirombak total. Bangunan art deco-nya tak lagi tersisa dan berganti bangunan baru kaya yang kita kenal sekarang.

Memang agak sulit menemukan bangunan stasiun Gambir yang bergaya art deco tahun 1928 itu, kecuali di salah satu video YouTube. Maka sah-sah aja orang menduga rel kereta api yang ada di parkiran dekat pintu utara itu bagian dari Stasiun Gambir waktu masih dibawah. Karena bekas-bekasnya udah hilang tak lagi bersisa.

Ada juga yang nyebut itu bukan sisa jalur kereta api kota Manggarai yang dulu, tapi sengaja dibikin buat cafe berkonsep gerbong kereta. Dugaan ini juga nggak salah. Tapi yang jelas kalo diliat dari struktur rel-nya masih pake bantalan besi, satu hal yang cirikan rel lama. Dari sinilah ada dugaan rel di parkiran memang sisa dari jalur bawah. Apalagi susah nemuin jejak-jejak bangunan Stasiun Gambir yang dulu.

Boleh jadi bangunan lama itu dulunya belum ditetapin sebagai Cagar Budaya kaya Stasiun Bandung bagian selatan. Jadi aja bisa dibongkar. Normalnya bangunan cagar budaya nggak boleh diganggu gugat apapun alasannya. Kalopun mau dibikin bangunan baru, cagar budaya nggak boleh dihilangin sama sekali, paling nggak buat penanda aja.

Kaya Stasiun Palmerah dan Stasiun Kebayoran yang masih pertahanin bangunan lama walaupun udah ada bangunan baru bergaya Eropa. Bangunan stasiun lama tetap ada, malah masih difungsiin buat gerai minimarket. Jadi orang nggak susah kalo mau nyari sisa-sisa peninggalan sejarah. Inilah yang nggak ada di Stasiun Gambir, dan kini cuma nyisain 2 ruas rel di parkiran itu.

Bekas Jalur Kereta Api Kota Manggarai (Bawah) di Stasiun Gambir (2/2)

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.